
Nismedia.id - Petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, akhirnya meledak dan tidak lagi menahan diri terkait kebijakan otoritas tenis putri dunia. Menjelang bergulirnya Grand Slam Australian Open 2026, Sabalenka melontarkan kritik pedas terhadap WTA mengenai jadwal kompetisi yang dinilainya sangat tidak manusiawi. Baginya, kalender turnamen saat ini sudah berada di level “gila” yang berpotensi besar merusak fisik para atlet profesional.
Bagi bintang asal Belarusia ini, menjaga kesehatan fisik kini menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Sabalenka bahkan secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk menerima sanksi berupa denda atau pemotongan poin peringkat demi mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Sikap berani ini dianggap sebagai bentuk “pemberontakan” halus terhadap sistem tenis global yang dianggap lebih memprioritaskan aspek komersial dan bisnis daripada perlindungan terhadap pemainnya sendiri.
Perlawanan Terhadap Sistem Wajib WTA
Dalam sebuah sesi konferensi pers yang emosional, Sabalenka sempat membandingkan kondisinya dengan era legenda tenis, Serena Williams. Ia merasa pemain masa kini tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih turnamen karena adanya aturan wajib (mandatory events) yang sangat ketat. Jika seorang pemain absen di turnamen level 500, WTA akan memberlakukan denda poin yang sangat merugikan bagi posisi peringkat dunia.
Seperti dikutip nismedia.id dari laman Bola.net, Sabalenka mengaku bahwa kebijakan ini pernah menimpa dirinya dan Iga Swiatek pada musim lalu. Ia merasa sistem saat ini tidak memberikan ruang bagi pemain untuk mendengarkan kebutuhan tubuh mereka sendiri. “Musim ini benar-benar gila. Mereka tidak fokus melindungi kami semua; mereka fokus pada hal lain,” sindir petenis berusia 27 tahun tersebut.
Trauma Cedera dan Gelombang Protes Pemain Elit
Keputusan Sabalenka untuk lebih selektif memilih turnamen bukan tanpa alasan kuat. Trauma cedera bahu yang memaksanya mundur dari Wimbledon musim lalu masih membekas jelas. Ia tidak ingin mimpi buruk itu terulang di musim 2026 hanya karena terobsesi mengejar poin peringkat namun harus mengorbankan umur panjang kariernya di dunia tenis.
Ternyata, Sabalenka tidak sendirian dalam menyuarakan kegelisahan ini. Rival terberatnya, Iga Swiatek, dan bintang muda Amerika Serikat, Coco Gauff, juga sempat mengeluhkan tekanan mental serta fisik akibat jadwal yang sangat padat. Dengan Australian Open yang akan segera dimulai pada 12 Januari hingga 2 Februari di Melbourne, perdebatan mengenai kesejahteraan atlet ini diprediksi akan terus memanas di kalangan pecinta olahraga dunia.






