
Nismedia.id - Gelora Bung Karno (GBK) yang biasanya bergemuruh oleh sorak sorai suporter Timnas Indonesia, kini menyisakan kekosongan yang terasa nyata. Sepanjang tahun 2026, tren kehadiran penonton di stadion kebanggaan warga Jakarta ini tercatat terus menurun drastis dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.
Pada laga krusial melawan Timnas Oman yang digelar 5 Juni 2026 semalam, pintu stadion hanya dipadati oleh 23.677 penonton. Angka ini terbilang jauh di bawah ekspektasi, terlebih lawan yang dihadapi merupakan tim kuat yang berjuang meraih tiket lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.
Penurunan jumlah penonton ini semakin terlihat jelas jika dibandingkan dengan catatan di awal tahun 2026. Kala mengikuti ajang FIFA Series pada Maret lalu, pertandingan melawan Saint Kitts and Nevis mampu menarik lebih dari 26.703 pasang mata hadir langsung ke GBK.
Bahkan saat berhadapan dengan tim yang berasal dari benua Eropa, Bulgaria di babak berikutnya. Jumlah suporter yang memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno hanya menyentuh angka hampir 24.174. Pergeseran minat masyarakat ini menjadi indikator penting yang tidak boleh diabaikan oleh pengelola sepak bola nasional.
Dikutip Nismedia.id dari akun media sosial Instagram @pengamatsepakbola, penurunan jumlah penonton bukan semata soal hasil pertandingan yang diraih. Diduga ada serangkaian faktor pendorong lain yang membuat masyarakat enggan mengeluarkan biaya dan waktu untuk hadir mendukung Timnas Indonesia seperti penjadwalan, harga tiket, hingga komunikasi yang dirasa belum cukup transparan.
Penurunan ini banyak mendapatkan perhatian dari netizen dan banyak yang menduga kemerosotan jumlah penonton karena pertandingan yang ditayangkan bukan pertandingan krusial atau laga di partai final.
“Mungkin karena pertandingan biasa. Menang pun cuma naik peringkat FIFA, beda dari 2 tahun lalu yang ngejar Piala Dunia,” tulis seorang netizen.
“Jakarta gak aman untuk sepakbola,” tandas netizen lain.
“Harga tiket jangan mahal-mahal kalau mau full itu stadion dan terbukti Jakarta itu aman untuk sepakbola,” tulis warganet.
Banyak pengunjung setia mengaku kecewa karena ritme pertandingan yang kerap bertabrakan dengan jam kerja atau hari sekolah. Tak sedikit pula yang merasa proses pembelian tiket seringkali penuh kendala teknis hingga membuat mereka menyerah sebelum mendapatkan akses masuk.
Di sisi lain, pihak penyelenggara pertandingan dikabarkan mulai merancang strategi baru untuk memikat kembali hati publik. Berbagai paket promosi dan peningkatan fasilitas disebut-sebut tengah disiapkan guna mengembalikan kemeriahan khas GBK yang melegenda.
Bagi para pemain, dukungan dari tribun penonton adalah bahan bakar utama yang menggerakkan semangat bertanding mereka di atas lapangan. Sinergi antara hasil positif di lapangan serta kepuasan suporter di luar lapangan harus berjalan beriringan tanpa ada yang tertinggal.






