
Nismedia.id - Persaingan di ajang F1 musim ini memanas bukan hanya di lintasan balap, melainkan juga di sektor pengembangan mesin yang menjadi nyawa setiap mobil. Banyak penggemar masih mengira Mercedes mendominasi lewat tenaga pacuannya, namun fakta terbaru mematahkan anggapan tersebut.
Penilaian ini didasarkan pada sistem alokasi ADUO atau Additional Development and Usage Allowance yang resmi ditetapkan oleh Federasi Otomotif Internasional (FIA). Sistem tersebut dirancang untuk menjaga keseimbangan kompetisi. Mengingat, tim yang mesinnya tertinggal performanya berhak mendapatkan jatah pengembangan lebih besar untuk mengejar ketertinggalan.
Dikutip Nismedia.id dari media AutoRacer, analisis teknis menunjukkan Red Bull Powertrains bersama Ford kini memegang gelar sebagai pabrikan dengan mesin pembakaran terbaik di tengah lapangan. Tingkat efisiensi dan tenaga yang dikeluarkan tercatat paling presisi dan bertenaga
Red Bull dipastikan tidak mendapatkan tambahan fasilitas pengembangan karena dianggap sudah berada di standar tertinggi tanpa kekurangan berarti. Bahkan, dominasi Red Bull ini terus berlanjut sejak kejuaraan dunia F1 2023 yang dibuktikan dengan performa gemilang Max Verstappen.
Sementara, Mercedes yang selama puluhan musim menjadi acuan kekuatan mesin kini harus rela menempati posisi kedua. Performa mesin milik tim asal Jerman itu tercatat tertinggal sekitar dua persen di bawah standar yang ditetapkan Red Bull RBPT-Ford. Kesenjangan ini membuat tim bintang tiga itu masuk dalam kategori alokasi pertama.
Konsekuensi dari perbedaan performa itu tertuang jelas dalam aturan yang mengatur batasan biaya dan jam uji coba setiap tim. Kesenjangan performa di atas dua persen hingga mendekati empat persen, membuat tim mendapatkan tambahan anggaran USD 3 juta dan diberi izin menambah waktu pengujian hingga 70 jam lebih banyak dibandingkan tim pemimpin pasar.
Posisi selanjutnya ditempati oleh tiga pabrikan besar lainnya yaitu Ferrari, Audi, dan Honda yang bergabung kembali lewat kemitraan teknisnya. Ketiga nama ini masuk ADUO 2 karena jarak kemampuan mesin mereka terpaut empat hingga enam persen di belakang pemimpin saat ini.
Semakin lebar celah performa yang dimiliki sebuah tim, semakin besar pula kebebasan yang diberikan regulator untuk mengejar ketertinggalan. Dalam tingkatan ADUO 2 tersebut, tambahan biaya operasional yang diizinkan melonjak menjadi USD 4,65 juta di luar batas anggaran standar dengan tambahan durasi pengujian mesin mencapai 100 jam.
Regulasi yang ditetapkan FIA ini terus berskala mengikuti rentang kesenjangan performa yang tercatat di lintasan balap. Jika jarak kemampuan terukur antara enam hingga delapan persen, tim berhak mendapat suntikan dana tambahan sebesar USD 6,35 juta dan waktu uji coba bertambah menjadi 150 jam.
Bagi tim yang tertinggal cukup jauh antara delapan hingga sepuluh persen, kebebasan pengembangan menjadi lebih luas lagi dengan tambahan biaya mencapai USD 8 juta dan izin uji coba selama 190 jam. Angka ini memberi ruang gerak besar bagi tim yang masih menata pondasi teknis untuk mengejar ketertinggalan dalam waktu singkat.
Tim yang mesinnya tertinggal lebih dari sepuluh persen, fasilitas tambahan mencapai angka tertinggi dalam regulasi tersebut. Alokasi biaya tambahan yang disediakan mencapai USD 11 juta disertai tambahan waktu pengujian mesin hingga 230 jam. Kebijakan ini menjadi kesempatan emas bagi tim baru atau tim yang sedang melakukan pembenahan total struktur teknis.
Hasil pemeringkatan ini mengubah peta persaingan pengembangan mesin yang selama ini dibangun oleh berbagai tim besar. Kini Red Bull RBPT-Ford tidak hanya menjadi tim tercepat berkat desain bodi mobil, melainkan juga menjadi penentu standar kekuatan tenaga pacuan seluruh jajaran peserta.






