
Nismedia.id - Presiden FIFA, Gianni Infantino, makin berpeluang besar mempertahankan jabatannya menjelang agenda pemilihan Presiden FIFA periode mendatang. Langkah pria berkebangsaan Swiss tersebut kian mulus usai pesaing terkuatnya, yakni Presiden Concacaf, Victor Montagliani, memutuskan mundur dari bursa pencalonan. Keputusan Montagliani untuk kembali memburu masa jabatan di tingkat regional membuat posisi petahana praktis tanpa penantang sepadan.
Montagliani yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden FIFA memilih untuk mengamankan periode kepemimpinan empat tahun terakhir di federasi kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia. Pria yang pernah memimpin Canadian Soccer Association (CSA) tersebut dinilai sebagai sosok paling potensial untuk menggoyahkan dominasi Infantino. Mundurnya Montagliani sekaligus menjadi kejutan besar bagi sejumlah pihak yang menginginkan adanya perubahan di jajaran kepemimpinan tertinggi sepak bola dunia.
Keputusan Victor Montagliani Dan Dinamika Pemilihan Presiden FIFA
Keputusan Montagliani untuk tidak maju dalam persaingan tingkat global disampaikan dalam sebuah workshop resmi awal bulan ini. Sebelum keputusan tersebut keluar, dirinya sempat didorong oleh beberapa pihak untuk maju menantang Infantino setelah munculnya polemik komersialisasi hak siar kompetisi. Penolakan luas dari berbagai federasi terhadap kebijakan petahana sempat membuka celah persaingan yang cukup terbuka.
Kontroversi tersebut bermula ketika Infantino mengusulkan rencana penghimpunan dana senilai 20 miliar dolar AS melalui penjualan sebagian hak kompetisi, termasuk Piala Dunia pria. Rencana tersebut mendapat penolakan keras dari Union of European Football Associations (UEFA), Concacaf, hingga Asian Football Confederation (AFC). Bahkan UEFA sempat mengancam akan memboikot seluruh turnamen resmi yang diselenggarakan oleh badan pengatur sepak bola dunia tersebut.
Meski rencana komersialisasi tersebut akhirnya ditarik kembali dalam hitungan hari, potensi persaingan dalam agenda elections tetap memanas. Montagliani dinilai memiliki rekam jejak kepemimpinan yang cukup kuat untuk menyatukan dukungan dari federasi-federasi yang berseberangan dengan petahana. Namun, keputusan sang pejabat untuk bertahan di tingkat konfederasi kawasan mengubah peta politik secara signifikan.
Keuntungan Bagi Petahana Dan Batas Akhir Pendaftaran Kandidat
Keputusan mundurnya pesaing utama ini memberikan dorongan motivasi besar bagi Infantino untuk mengamankan dukungan mayoritas anggota. Mantan Sekretaris Jenderal UEFA tersebut memerlukan sedikitnya 106 suara dari total 211 anggota resmi federasi untuk mengunci kemenangan. Dengan konstelasi politik saat ini, sang incumbent diyakini makin optimistis dapat melanjutkan masa jabatannya setelah melakoni satu dekade kepemimpinan sejak menggantikan Sepp Blatter.
Di sisi lain, kelompok penentang dan pengurus UEFA kini berpacu dengan waktu untuk menemukan figur alternatif yang layak dicalonskan. Pendaftaran resmi calon penantang akan ditutup pada 18 November mendatang, sehingga waktu yang tersisa bagi oposisi makin sempit. Tanpa adanya figur pemersatu yang kuat, usaha untuk menghadirkan kepemimpinan baru di badan sepak bola dunia diprediksi bakal menemui jalan buntu.
Sebelumnya, mantan pemain tim nasional Swiss, Ramon Vega, sempat menyatakan kesiapannya untuk maju bertarung memperebutkan posisi tertinggi. Namun, pria berusia 55 tahun tersebut terganjal aturan administratif lantaran tidak memiliki peran aktif di dunia sepak bola dalam dua tahun terakhir dari kurun waktu lima tahun terakhir. Kegagalan keterlibatan Vega makin melapangkan jalan bagi sang petahana untuk melenggang tanpa hambatan berarti.
Sumber: ESPN






