
Nismedia.id - Pelatih Kepala Timnas Indonesia, John Herdman menegaskan bahwa pendekatan berbasis ilmu olahraga atau sports science akan menjadi pilar utama strategi Garuda untuk lolos ke Piala Dunia 2030. Langkah ini dianggap sebagai terobosan penting untuk meningkatkan standar sepak bola nasional ke tingkat yang lebih tinggi.
John Herdman memboyong seorang ahli yang sangat berpengalaman, yaitu Dr. Cesar Meylan, untuk bergabung dengan staf kepelatihannya di Timnas Indonesia. Nama ini bukan pendatang baru di dunia sepak bola internasional, karena Dr. Meylan telah bekerja bersamanya sejak masa kepelatihannya di Timnas Wanita Kanada.
Bersama tim tersebut, keduanya sukses meraih dua medali perunggu Olimpiade pada tahun 2012 dan 2016, sebelum kemudian membantu Timnas Kanada Putra melaju ke putaran final Piala Dunia 2022. Kehadiran Dr. Meylan dinilai sangat krusial untuk memperkecil kesenjangan pengalaman yang masih memisahkan Indonesia dari kekuatan sepak bola Asia lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia.
Negara-negara tersebut memiliki pola yang konsisten dalam meloloskan diri ke putaran final Piala Dunia, dan Herdman ingin memahami serta meniru pola tersebut dengan pendekatan yang tepat. Ilmu olahraga menjadi jembatan yang diharapkan mampu menutup celah tersebut secara signifikan.
Dalam keterangan resminya yang diterima awak media, Herdman menjelaskan secara rinci peran yang diemban oleh Dr. Meylan dalam persiapan tim. Sosok yang baru saja membawa Indonesia meraih gelar juara ASEAN Cup 2026 itu menyebut bahwa aspek perjalanan dan manajemen kondisi pemain menjadi fokus utama yang diperhatikan tim pelatih.
“Jadi dia membawa semua pengalaman internasional itu ke Indonesia dan meletakkan fondasi untuk kualifikasi Piala Dunia, karena kami telah mengalaminya, dan dia memahami realitas bekerja dengan pemain yang harus bepergian dari Eropa,” ujar Herdman.
Ia juga menambahkan tantangan yang dihadapi pemain dalam menjaga kondisi saat harus berpindah benua untuk membela negara. Menurutnya, perbedaan zona waktu dan kelelahan akibat perjalanan jarak jauh sering kali menjadi faktor penentu performa pemain di lapangan, dan inilah yang ingin diminimalkan melalui pendekatan ilmiah yang terukur.
“Pemain kami harus bepergian dari Eropa ke Amerika Utara untuk bertanding, dan kemudian realitas dari, misalnya, kualifikasi Piala Dunia kami memainkan tiga pertandingan dalam 10 hari,” jelasnya.
Menurut John Herdman, Dr. Meylan sedang berupaya memastikan Indonesia dapat memperkecil kesenjangan pengalaman dengan negara-negara kuat yang secara rutin tampil di Piala Dunia.
“Perjalanan melintasi benua dan negara yang berbeda, zona waktu berbeda. Kami telah melakukan itu selama 15-20 tahun bersama. Jadi bersama Dr. Meylan, dia mencoba memastikan bahwa kita memperkecil kesenjangan pengalaman dengan tim-tim seperti Jepang, Australia, Korea, Arab Saudi, yang secara konsisten lolos ke Piala Dunia,” terangnya dengan penuh keyakinan.
John Herdman menyebut Timnas Indonesia perlu membangun pengalaman negara-negara yang langganan ke Piala Dunia seperti Jepang, Australia, Korea Selatan, hingga Arab Saudi. Dirinya juga menegaskan pengalaman tersebut tidak hanya disebabkan oleh tim pelatih.
“Mereka membangun pengalaman tentang cara untuk lolos. Indonesia belum membangun pengalaman itu sebagai sebuah organisasi, dan ini bukan hanya tim pelatih,” tegas Herdman.
Pelati Inggris ini menyebut tim pelatih telah melakukan evaluasi menyeluruh untuk memetakan kekuatan dan kelemahan yang ada sejak awal bertugas di Indonesia. Terutama terkait proses kualifikasi Piala Dunia, bagaimana siklus dan kebutuhan para pemain.
“Sejak saya datang ke sini, kami melakukan survei yang sangat menyeluruh. anda tahu, dengan para pemain, staf, untuk memahami siklus kualifikasi Piala Dunia terakhir, periode dua tahun tersebut, apa yang berjalan baik, apa yang tidak berjalan baik, apa yang lebih dibutuhkan atau kurang dibutuhkan oleh para pemain, di mana letak kesenjangannya,” ungkapnya mengenai proses pemetaan yang telah dilakukan timnya.
Dirinya menyebut dari hasil survei tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan tidak hanya terjadi di aspek teknis permainan, tetapi juga di berbagai area pendukung. Mulai dari kesenjangan logistik, kognitif, hingga beban emosional.
“Ada kesenjangan di bidang operasional, ada kesenjangan di bidang logistik, ada kesenjangan dalam beban kognitif, beban emosional, seperti ada kesenjangan di banyak area, tetapi ada juga hal-hal yang dilakukan dengan sangat baik,” papar Herdman.
Langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas perbaikan yang paling berdampak pada kinerja tim di lapangan. Fokus pada prioritas utama ini diharapkan dapat memberikan hasil yang nyata tanpa harus menyebar sumber daya ke terlalu banyak hal sekaligus.
“Bagi saya, ini hanya mencoba menyeimbangkan dan memahami, benar, merasa ini adalah kesenjangan terbesar dan terpenting yang harus kita tutup sekarang,” ujar Herdman.
Pengalaman yang didapat dari proses kualifikasi di kawasan CONCACAF akan diadaptasi untuk konteks kualifikasi zona Asia. Pengetahuan tentang bagaimana mengelola tim di tengah perjalanan jauh dan zona waktu yang berbeda menjadi modal berharga yang ingin diterapkannya bersama Indonesia.
“Di sinilah kita bisa membawa pengalaman kita tentang kualifikasi Piala Dunia di CONCACAF ke Asia,” tutupnya.
Sumber: Obrolan News Room






