
Nismedia.id - Penyerang asal Portugal, Goncalo Ramos yang kini membela AC Milan akhirnya berbicara terbuka tentang pengalaman terakhirnya bersama Paris Saint‑Germain (PSG) pada musim panas lalu. Selama bertahun‑tahun membela tim asal Prancis itu, ia jarang mendapatkan kesempatan tampil sebagai pemain utama.
Berdasarkan catatan golnya, Goncalo Ramos tampil cukup mengesankan saat masuk sebagai pemain pengganti. Kondisi tersebut membuatnya mulai mempertimbangkan langkah pindah ke klub lain sejak beberapa waktu sebelumnya. Ia mengakui bahwa keinginan untuk keluar sudah ada sejak pertengahan musim, namun kendala administrasi membuat kepindahan harus ditunda hingga jeda musim panas.
“Saya ingin meninggalkan PSG, tetapi selalu lebih rumit untuk pergi di bulan Januari. Itu bukan pilihan terbaik, meskipun saya memang ingin pergi di bulan Januari,” ungkap pemain berusia 25 tahun itu dalam sesi wawancara.
Lebih lanjut, dirinya menjelaskan bahwa dalam 3 tahun terakhirnya, dirinya mengaku frustrasi karena belum pernah mendapatkan kesempatan bermain selama empat atau lima pertandingan selama berturut-turut. Terlebih dirinya membantu timnya mencetak gol namun pelatih tak kian mmeberinya kesempatan.
“Selama tiga tahun terakhir saya di PSG, saya rasa saya belum pernah menjadi starter dalam empat atau lima pertandingan berturut‑turut. Terkadang itu membuat frustrasi, itu membuat saya gila. Saya bahkan berhasil mencetak gol dalam empat atau lima pertandingan berturut‑turut tanpa menjadi starter satu pun. Dan, bagi saya, itu tidak masuk akal. Saya membicarakannya dengan keluarga saya,” lanjutnya.
Majalah sepak bola Prancis L’Équipe menyebut Goncalo Ramos tidak memilih untuk menyalahkan pelatih Luis Enrique atas keterbatasan kesempatan bermainnya. Ia justru memilih untuk tetap fokus pada pekerjaan di lapangan tanpa menunjukkan kemarahan kepada staf pelatih maupun rekan setim.
“Saya tahu bahwa jika saya menunjukkan kekesalan atau rasa kesal, itu akan menyakiti saya. Sebaliknya, jika saya mempertahankan martabat saya dan terus bekerja, tidak seorang pun akan mempertanyakan profesionalisme saya, atau mengatakan bahwa saya marah,” jelasnya.
Ia menyatakan bahwa proses kepindahannya ke AC Milan bermula saat gelaran Piala Dunia berlangsung beberapa waktu lalu. Pada saat itulah agennya Jorge Mendes mulai memberitahukan adanya minat dari tim asal Italia tersebut. Komunikasi pun berlanjut hingga ada peran penting dari pelatih Ruben Amorim yang mendorong terjadinya kesepakatan transfer.
“Selama Piala Dunia, saya berhubungan dengan Jorge Mendes (agen saya) dan minat dari Milan muncul. Pelatih, Ruben Amorim, datang ke sini dan menelepon saya. Itu juga sangat penting. Suatu pagi, Jorge Mendes menelepon saya dan berkata: ‘Kesepakatannya sudah selesai’,” jelas Ramos menceritakan momen penandatanganan kontrak barunya bersama Rossoneri.
Meskipun telah memutuskan untuk pindah, Ramos mengakui bahwa perpisahan dengan PSG terasa berat baginya. Ia menyebut bahwa ikatan persahabatan di dalam ruang ganti tim tersebut sangat erat dan sulit dilupakan. Ada tiga rekan senegaranya yang selalu mendampinginya selama bertugas di ibu kota Prancis itu.
“Meskipun tahu saya ingin pergi, saya tidak menyembunyikan fakta bahwa meninggalkan PSG ‘menyakitkan’ karena ‘grup itu benar‑benar fantastis dan sangat kompak’. Ada kami bertiga orang Portugal (Vitinha, Joao Neves, dan Nuno Mendes), yang selalu bersama saya dalam perjalanan, latihan, pertandingan, bersama tim nasional,” lanjutnya.
Kini, di bawah bendera AC Milan, Ramos berusaha membuktikan bahwa ia pantas mendapatkan tempat sebagai pemain utama di tim besar Eropa. Ia mengakui bahwa adaptasi di liga baru tidak selalu mudah, namun ia merasa lebih bebas mengekspresikan kemampuan yang dimilikinya.
Sumber: Sports






