
Nismedia.id - Federasi Futsal Indonesia (FFI) bersama PT Kompetisi Futsal Indonesia (KFI) resmi merilis keputusan penting terkait penataan lisensi partisipasi klub di ajang Pro Futsal League. Langkah ini membawa dampak langsung bagi susunan peserta musim mendatang, sekaligus mengubah wajah kompetisi futsal profesional tanah air.
Keputusan ini diambil sebagai bagian dari komitmen bersama FFI dan KFI dalam menjaga integritas kompetisi serta memastikan liga dapat terus tumbuh dan berkembang secara profesional. Tidak ada lagi tempat bagi klub yang hanya mengandalkan keikutsertaan tanpa memenuhi standar yang ditetapkan.
Penataan ini dilandasi Peraturan FFI Nomor 015/FFI-LGL/VII-PER/2025 tentang Penataan Struktur Kompetisi dan Mekanisme Lisensi Partisipasi. Aturan tersebut menjadi landasan hukum yang jelas bagi seluruh proses penilaian dan pengambilan keputusan yang dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Dikutip Nismedia.id dari Instagram @federasifutsal_id, Pro Futsal League (PFL) kini beroperasi sebagai liga profesional berbasis kemitraan tertutup. Setiap klub yang ingin berkompetisi di dalamnya wajib lolos Uji Kelayakan yang menilai lima aspek utama, yaitu finansial, olahraga, hukum, infrastruktur, dan komersial.
Satu kabar baik datang dari Proton FC Kuningan yang berhasil lolos melalui proses seleksi yang ketat dan memenuhi seluruh kriteria kelayakan yang diminta. Klub ini membuktikan kemampuan, kesiapan, serta komitmen jangka panjang untuk tampil di level tertinggi futsal nasional.
Namun di sisi lain, ada tiga klub yang harus menerima keputusan berat berupa pencabutan lisensi partisipasi. Klub-klub tersebut adalah Fafage Banua, Moncongbulo FC Makassar, dan Asahan Allstar Samarinda yang sebelumnya telah menjadi bagian dari kompetisi ini.
Pencabutan lisensi terhadap ketiga klub itu dilakukan karena tidak lagi memenuhi standar wajib lisensi yang berlaku. Alasan mencakup pelanggaran ketentuan, ketidakpatuhan terhadap komitmen klub, hingga tidak terpenuhinya kriteria kelayakan finansial yang menjadi syarat mutlak.
FFI menegaskan bahwa lisensi partisipasi di Pro Futsal League bukanlah hak permanen yang bisa dimiliki selamanya. Lisensi tersebut harus dijaga dan dipertahankan melalui kepatuhan serta pemenuhan standar yang ditetapkan setiap musimnya.
“Tidak ada klub yang bisa masuk atau bertahan di Pro Futsal League tanpa melewati proses,” demikian bunyi pengumuman resmi yang disampaikan pihak penyelenggara.
Setiap peserta wajib memenuhi standar profesional yang terukur, meliputi komitmen kompetisi dan kesehatan finansial secara berkelanjutan di setiap musim. Standar ini menjadi tolok ukur agar liga tetap sehat dan berkualitas dari tahun ke tahun.
Keputusan ini sekaligus menjadi sinyal tegas bagi seluruh pemangku kepentingan di dunia futsal Indonesia bahwa profesionalisme bukan sekadar slogan, melainkan syarat mutlak. Klub-klub harus dikelola dengan tata kelola yang baik agar bisa bertahan di kancah kompetisi resmi.






