
Nismedia.id - Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menggelar pertemuan tertutup dengan Kapolri, Suyudi Ario Seto, guna mengatasi maraknya keributan suporter yang terjadi di arena sepak bola tanah air. Langkah tegas ini diambil menyusul rentetan aksi kekerasan fisik hingga jatuhnya korban jiwa yang melibatkan oknum pendukung di luar area stadion. Pertemuan tersebut menegaskan komitmen bersama antara federasi dan pihak kepolisian dalam mengusut tuntas setiap tindak pidana yang mencoreng dunia olahraga.
Erick menegaskan bahwa PSSI bersama operator kompetisi I.League tak segan menjatuhkan sanksi berat berupa pengurangan poin bagi klub yang pendukungnya terbukti melakukan pelanggaran hukum. Keselamatan para pencinta sepak bola Merah Putih harus menjadi prioritas utama agar seluruh elemen masyarakat dapat mendukung tim kesayangannya secara aman dan harmonis.
Rentetan Insiden Berdarah Dan Potensi Sanksi Keributan Suporter
Eskalasi aksi anarkistis di luar lapangan mencatatkan rentetan peristiwa kelam dalam beberapa pekan terakhir di berbagai daerah. Salah satunya terjadi ketika bus pemain Persib Bandung U-18 diserang oknum tak bertanggung jawab di Rest Area KM 360 Batang pada 11 Oktober 2026. Selain itu, bus rombongan pendukung Persija Jakarta juga menjadi sasaran pelemparan benda keras di Jalan Tol Palikanci KM 200, Cirebon, sehari berselang.
Puncak aksi kekerasan tersebut merenggut nyawa seorang suporter Persib yang tewas akibat sabetan senjata tajam seusai menyaksikan laga melawan Garudayaksa FC di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, pada 25 Oktober 2026. Menanggapi insiden berdarah ini, PSSI mendesak klub dan operator liga untuk bertindak tanpa kompromi sesuai regulasi yang berlaku. Ketegasan aturan dinilai sangat krusial untuk menghentikan aksi kriminalitas yang terus membayangi iklim kompetisi nasional.
Federasi mengingatkan agar seluruh pemilik klub mengambil tanggung jawab penuh atas perilaku para suporter mereka demi keselamatan bersama. “Posisi kami, PSSI jelas bahwa kami meminta liga dan klub-klub untuk bertindak tegas. Itu ada aturan mainnya semua, tidak usah diputar-putar,” kata Erick. Pihaknya juga mendukung kebijakan pembatasan laga away bagi tim-tim tertentu demi meminimalisasi potensi bentrok antarkelompok pendukung.
Komitmen Kepolisian Dan Evaluasi Aturan Pendukung Tandang
Guna menangani tindak kejahatan di luar area stadion, PSSI mengapresiasi kinerja responsif aparat kepolisian dalam membekuk para pelaku penyerangan. Sinergi antara federasi dan kepolisian dinilai memegang peranan vital dalam menciptakan iklim sepak bola nasional yang kondusif. Hasil koordinasi mendalam bersama jajaran kepolisian rencananya akan diumumkan secara resmi dalam satu hingga dua pekan mendatang.
Erick menyampaikan apresiasinya atas tindakan cepat jajaran kepolisian yang berhasil menangkap para pelaku kekerasan dalam kurun waktu singkat. “Di luar lapangan, tentu saya mengapresiasi pihak kepolisian yang cepat menuntaskan beberapa isu kriminal dengan cepat, bahkan ada yang 1×24 jam langsung ditangkap,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa penindakan tegas terhadap aksi kriminalitas di luar lapangan akan terus berjalan solid beriringan dengan komitmen penegakan hukum dari Polri.
PSSI menegaskan sanksi pengurangan poin siap dijatuhkan jika keharmonisan antarsuporter gagal dijaga oleh manajemen klub. “Kami, PSSI, tegas. Tidak hanya klubnya yang ditindaklanjuti, suporter juga, bahkan pengurangan poin yang memang harus dijalankan kalau kondisi ini tidak bisa dijaga keharmonisannya seperti yang kami harapkan,” tegas Erick. Langkah ketat ini diambil mengingat FIFA baru kembali mengizinkan penonton away pada musim 2026/2027 setelah sempat dilarang selama tiga tahun pascatragedi Kanjuruhan.
Sumber: Bola.com






