
Nismedia.id - Pesta Olahraga Asia Tenggara atau SEA Games sering kali dianggap memiliki dua wajah. Di satu sisi, ini adalah ajang kompetisi bergengsi untuk cabang olahraga (cabor) Olimpiade seperti sepak bola, atletik, hingga renang. Namun di sisi lain, banyak yang menganggap SEA Games sebagai “panggung pribadi” bagi negara tuan rumah untuk memborong medali lewat jalur khusus.
Istilah ini muncul bukan tanpa alasan. Setiap kali sebuah negara didapuk menjadi tuan rumah, hampir bisa dipastikan akan muncul “menu-menu spesial” dalam daftar pertandingan. Menu ini adalah olahraga tradisional atau lokal yang sangat spesifik, yang sering kali hanya dikuasai oleh tuan rumah demi mendulang pundi-pundi emas.
Etalase Budaya di Gelanggang Olahraga
Jika diibaratkan prasmanan, tuan rumah berhak menyajikan hidangan pembuka yang asing bagi lidah tamu undangan. Dilansir dari SuperBall.BolaSport.com, fenomena ini membuat delegasi negara lain sering kali hanya bisa menghela napas pasrah, atau mungkin bergumam, “Kalau negaramu kuat di situ, tambah saja, kami ikut meramaikan saja.”
Contoh paling segar terjadi pada SEA Games 2023 di Kamboja. Tuan rumah memasukkan Kun Khmer dan Kun Bokator. Kun Khmer sempat memicu polemik panas dengan Thailand karena kemiripannya dengan Muay Thai. Sementara Kun Bokator, yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda, menampilkan gerakan bela diri yang anggun bak tarian. Alhasil, atlet Kamboja tampil begitu dominan, seolah menari di atas penderitaan lawan yang masih meraba-raba aturan mainnya. Selain itu, ada juga kompetisi perahu tradisional khas Khmer yang teknik mendayungnya sangat spesifik, membuat tim tamu kesulitan mengejar kecepatan tuan rumah.
Dominasi Tuan Rumah Lewat Cabor Eksotis
Mundur ke belakang, langkah pragmatis mendulang emas ini juga pernah dilakukan negara lain. Pada SEA Games 2019, Filipina memanen emas lewat Arnis. Ini adalah seni bela diri nasional mereka yang menggunakan tongkat rotan. Meski terlihat sederhana, kecepatan serangan Arnis membuat negara lain kewalahan karena harus mengejar ketertinggalan teknik dalam waktu singkat.
Mengutip ulasan SuperBall.BolaSport.com, Myanmar pun pernah melakukan hal serupa pada edisi 2013. Mereka mempertandingkan Sittuyin, varian catur kuno dengan susunan bidak dan taktik yang jauh berbeda dari catur internasional. Tak hanya itu, ada Chinlone, olahraga yang lebih mirip pertunjukan seni mengolah bola takraw dengan kaki. Saking indahnya gerakan para pemain Myanmar, penonton dan lawan sering kali bingung; ini kompetisi olahraga atau festival tari?
Ekspektasi Menuju SEA Games 2025
Laos juga tak mau kalah saat menjadi tuan rumah tahun 2009 dengan memperkenalkan cabor Kok, permainan yang menggabungkan unsur sepak takraw dan kok bulu tangkis.
Meski kerap menuai kontroversi karena dianggap menguntungkan tuan rumah secara sepihak, kehadiran cabor-cabor unik ini tak bisa dipungkiri memberikan warna tersendiri. SEA Games bertransformasi menjadi festival budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi Asia Tenggara, mulai dari bela diri ribuan tahun hingga permainan rakyat.
Kini, mata publik tertuju pada Thailand yang akan menjadi tuan rumah SEA Games 2025. Sebagai negara dengan budaya olahraga yang kuat, menarik untuk dinantikan “menu lokal” apa yang akan disajikan Negeri Gajah Putih tersebut untuk mengejutkan tetangganya.






