Aturan Buka Puasa Liga Inggris 2025-2026 Kembali Diterapkan Bagi Pemain Muslim

Aturan Buka Puasa Liga Inggris 2025-2026 Kembali Diterapkan Bagi Pemain Muslim
Water Break pemain Everton saat bertanding melawan Tottenhan di bulan Ramadan. (laman: bbc.com)
Promo Allegiant

Nismedia.id - Kompetisi sepak bola kasta tertinggi di tanah Britania Raya, yakni Liga Inggris 2025-2026, kembali menunjukkan komitmen kuatnya terhadap nilai toleransi beragama. Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, otoritas penyelenggara telah memastikan adanya regulasi khusus bagi para pesepak bola muslim. Kebijakan ini bertujuan untuk memfasilitasi para atlet agar tetap dapat menjalankan ibadah puasa secara lancar meskipun sedang merumput di lapangan hijau.

Bentuk dukungan nyata pada ajang Liga Inggris 2025-2026 ini diwujudkan melalui pemberian izin kepada wasit untuk menghentikan pertandingan sejenak. Jeda waktu singkat tersebut diberikan tepat saat azan magrib berkumandang agar para pemain dapat membatalkan puasanya. Mereka diperbolehkan untuk meminum air atau mengonsumsi suplemen gel energi di pinggir lapangan sebelum kembali melanjutkan pertandingan dengan intensitas tinggi.

Komitmen Toleransi Dan Sejarah Penerapan Aturan

Aturan mengenai jeda istirahat layaknya water break untuk berbuka puasa ini sebenarnya sudah menjadi agenda rutin tahunan yang ditetapkan oleh pihak Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA). Langkah progresif ini pertama kali diaplikasikan pada tahun 2021 silam saat pertandingan yang mempertemukan Leicester City dan Crystal Palace, dikutip nismedia.id dari Kompas.com. Semenjak saat itu, prosedur menghentikan laga sejenak selalu diterapkan sebagai bentuk penghormatan bagi para pemain yang sedang berpuasa.

Banyak bintang lapangan hijau beragama Islam yang merasakan manfaat langsung dari kebijakan positif ini dalam karier mereka. Nama-nama besar di Premier League seperti Mohamed Salah, William Saliba, Rayan Ait-Nouri, hingga Amad Diallo dapat bertanding dengan lebih tenang tanpa harus mengorbankan kewajiban spiritual. Mantan gelandang andalan Everton, Abdoulaye Doucoure, juga pernah menyatakan kekagumannya terhadap iklim toleransi yang dibangun oleh penyelenggara liga.

Fleksibilitas Klub Menjelang Bulan Ramadan

Selain pihak penyelenggara liga, klub-klub peserta juga menunjukkan tingkat toleransi yang sangat tinggi terhadap para pemainnya. Beberapa tim bahkan bersedia merombak jadwal operasional latihan harian mereka agar selaras dengan kondisi fisik pemain muslim yang sedang berpuasa. Hal ini membuktikan bahwa kesejahteraan dan kenyamanan pemain telah menjadi prioritas utama bagi jajaran pelatih dan manajemen tim.

Sebagai contoh, mantan mesin gol Liverpool, Sadio Mane, pernah membagikan pengalamannya mengenai bagaimana manajer klub sangat kooperatif dalam mengubah jadwal latihan menjadi pagi hari. Perubahan jadwal ini sangat membantu karena berlatih keras saat perut kosong tentu merupakan tantangan yang sangat berat bagi seorang atlet. Mane juga mengapresiasi peran ahli gizi klub yang selalu memastikan asupan nutrisi pemain tetap terjaga sebelum kick-off pertandingan selama bulan suci Ramadan.

Peran Penting Tim Ahli Dan Organisasi Pendamping

Menciptakan lingkungan kompetisi yang ramah bagi atlet beragama Islam tentu membutuhkan sinergi dan edukasi dari berbagai pihak yang berkompeten. Keberhasilan penerapan kebijakan ini ternyata juga tidak lepas dari kontribusi penting sebuah organisasi bernama Muslim Chaplains in Sports (MCS). Organisasi inilah yang secara aktif memberikan panduan serta mendampingi klub-klub elit guna menyelaraskan program latihan fisik dengan kewajiban spiritual para pemainnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *