
Nismedia.id - Satu tahun lalu, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri harus menelan pahitnya kekalahan di partai final Denmark Open 2025. Saat itu, mereka harus mengakui keunggulan pasangan Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi dengan skor 18-21, 21-15, 19-21.
Tekad tersebut kini telah terwujud dengan cara yang luar biasa meyakinkan. Di partai final Denmark Open 2026, pasangan unggulan Indonesia itu tampil luar biasa dan menaklukkan wakil Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik dengan skor telak 21-8, 21-11.
Perjalanan dari posisi kedua menuju posisi pertama tidaklah mudah, tetapi Fajar/Fikri membuktikan bahwa kerja keras dan konsistensi akhirnya membuahkan hasil manis. Mereka tidak hanya sekadar naik tangga juara, tetapi melakukannya dengan penampilan yang memukau dan nyaris tanpa celah.
Kemenangan ini menjadi gelar juara tingkat BWF World Tour paling prestisius yang berhasil mereka raih musim ini. Skor akhir yang tercatat di sistem resmi BWF mengonfirmasi keunggulan dominan Fajar dan Fikri atas pasangan Malaysia tersebut dalam dua gim langsung tanpa balas.
Fajar Alfian mengakui bahwa persiapan yang matang serta evaluasi menyeluruh dari tahun lalu menjadi kunci utama keberhasilan mereka kali ini. Dia menambahkan bahwa dukungan dari pelatih dan rekan satu tim juga sangat berarti dalam membangun kepercayaan diri mereka.
“Kami belajar banyak dari kekalahan tahun lalu. Pengalaman di final tahun sebelumnya membuat kami lebih tenang dan siap menghadapi tekanan di laga-laga penting kali ini,” ujar Fajar usai pertandingan.
Muhammad Shohibul Fikri menyebutkan bahwa mereka sengaja meningkatkan kecepatan permainan dan variasi serangan agar lawan kesulitan menemukan ritme permainan mereka. Strategi itu berjalan sangat efektif sehingga pasangan Malaysia itu terlihat kewalahan sejak poin-poin awal dimainkan.
“Kami tahu Aaron dan Soh adalah pasangan yang tangguh, jadi kami harus tampil maksimal sejak awal agar mereka tidak sempat membangun kepercayaan diri,” kata Fikri.
Perbandingan hasil antara dua tahun terakhir menunjukkan peningkatan kualitas mental dan permainan yang sangat signifikan dari pasangan ini. Jika pada tahun lalu mereka masih harus berjuang keras dalam tiga gim dan akhirnya gagal, tahun ini mereka tampil begitu tenang dan fokus hingga mampu menuntaskan laga dalam waktu yang sangat singkat.
Kemenangan 21-8 di gim pertama menunjukkan betapa tajamnya serangan yang mereka lancarkan, sementara pertahanan mereka nyaris tidak bisa ditembus oleh lawan. Aaron Chia sendiri mengakui bahwa mereka tidak menemukan cara yang efektif untuk membendung serangan-serangan cepat dari pasangan Indonesia.
Gim kedua berjalan dengan skenario yang hampir serupa, di mana Fajar/Fikri terus memperlebar jarak poin hingga tertutup dengan skor 21-11. Tidak ada reaksi berarti dari pasangan Malaysia karena mereka terus dikepung dengan serangan yang datang dari segala arah.
Gelar juara Denmark Open 2026 ini sekaligus melengkapi koleksi trofi internasional Fajar/Fikri yang semakin berwarna sepanjang karier mereka. Mereka telah membuktikan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, melainkan dibangun dari ketekunan, keberanian bangkit dari kekalahan, serta kesungguhan untuk terus berkembang menjadi lebih baik.
Kini, Fajar/Fikri tidak hanya dikenal sebagai peraih medali perak edisi 2025, melainkan sebagai juara Denmark Open 2026. Semangat ini patut diapresiasi dan dijadikan teladan bagi para atlet muda yang sedang merintis perjalanan di dunia olahraga.
Sumber: BWF






