Cesc Fabregas Pilih Pemain Irak daripada Timnas Indonesia, Begini Pernyataan Mantan Pelatih Como

Cesc Fabregas Pilih Pemain Irak daripada Timnas Indonesia, Begini Pernyataan Mantan Pelatih Como
Potret Timnas Indonesia yang sempat dilirik Cesc Fabregas (Instagram: @timnasindonesia)
Promo Allegiant

Nismedia.id - Sepak bola Indonesia ternyata pernah menjadi sorotan langsung dari seorang legenda dunia yang kini memegang kendali di klub asal Italia. Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas diketahui pernah datang langsung menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia U-23 dengan tujuan khusus.

Kisah menarik ini diungkapkan sendiri oleh Kurniawan Dwi Yulianto, mantan pelatih tim muda Como Primavera yang kini menjadi saksi langsung dinamika di dunia sepak bola Eropa. Ia menceritakan bahwa perhatian Cesc Fabregas terhadap sepak bola Indonesia bukan sekadar isu tanpa dasar.

“Sebetulnya, kalau tidak salah, pada waktu itu Fabregas pernah memantau pertandingan kita U-23, ketika Indonesia melawan Irak,” ujar Kurniawan Dwi Yulianto dikutip Nismedia.id dari Instagram @futboll.indonesiaa.

Pelatih asal Spanyol itu dikabarkan benar-benar meluangkan waktu untuk mengamati langsung potensi yang dimiliki para pemain muda Timnas Indonesia. Momen pemantauan tersebut terjadi saat Indonesia berhadapan dengan Irak dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Asia U-23 2024 di Qatar, pada 2 Mei tahun lalu.

Cesc Fabregas hadir di lokasi dan mengamati secara langsung bagaimana permainan anak-anak asuh Shin Tae-yong berlangsung di atas lapangan hijau. Kehadirannya tentu menjadi kabar menggembirakan sekaligus harapan baru bagi perkembangan pemain Indonesia ke kancah Eropa.

Namun sayangnya, hasil pemantauan tersebut tidak berujung pada perekrutan pemain Indonesia ke Como 1907. Ada alasan mendasar yang membuat Fabregas akhirnya menahan diri untuk tidak mengambil pemain dari skuad Garuda Muda kala itu.

Kurniawan Dwi Yulianto menjelaskan bahwa hal ini berkaitan erat dengan pola permainan dan standar yang diterapkan oleh pelatih asal Spanyol tersebut. Filosofi permainan yang dimaksud mencakup aspek teknis, pemahaman taktik, hingga karakter yang harus dimiliki pemain agar bisa masuk ke dalam sistem yang dibangun Fabregas di klubnya.

“Karena mereka memang ingin melihat pemain Indonesia. Namun pada akhirnya tidak ada pemain Indonesia yang mungkin kurang sesuai dengan filosofi Fabregas,” tambahnya.

Sebaliknya, perhatian Fabregas justru jatuh kepada pemain dari negara lawan yang tampil pada laga yang sama. Pemain Irak yang menunjukkan performa sesuai kriteria akhirnya dipilih dan direkrut untuk bergabung dengan struktur klub Como 1907. Hal ini menjadi pelajaran berharga sekaligus cermin bagi perkembangan sepak bola nasional saat ini.

“Dan pada waktu itu, mereka justru merekrut Ali Jasim, pemain dari Irak,” ungkap Kurniawan.

Kurniawan menegaskan bahwa niat Fabregas untuk mencari pemain dari Asia tetap ada, namun proses seleksi sangat ketat dan tidak bisa dikompromikan. Kehadirannya menyaksikan langsung laga Indonesia merupakan bukti bahwa sepak bola nasional sudah mulai masuk dalam radar pengamatan klub-klub luar negeri.

Kekalahan Indonesia 1-2 dari Irak dalam laga tersebut juga menjadi catatan bahwa kualitas permainan masih perlu ditingkatkan secara menyeluruh. Perbedaan tingkat teknis dan kepatuhan terhadap taktik terlihat menjadi faktor utama mengapa pemain Irak lebih dipilih dibandingkan pemain Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *