
Nismedia.id - Publik sepak bola Lamongan tengah diramaikan oleh kabar kurang sedap mengenai hilangnya sejumlah pilar utama Persela Lamongan secara mendadak. Setidaknya enam pemain kunci Laskar Joko Tingkir secara mengejutkan menyeberang ke kubu PSIS Semarang. Hal ini memicu polemik panas karena proses perpindahan tersebut dianggap tidak lazim dan terjadi di luar mekanisme bursa transfer yang seharusnya.
Fenomena Pembajakan Pemain Persela ini mulai terkuak setelah manajemen baru merasakan adanya kejanggalan dalam prosedur administrasi klub. Enam nama yang dipastikan hengkang ke Laskar Mahesa Jenar meliputi Wawan Febrianto, Ocvian Chanigio, Esteban Vizcarra, Otavio Dutra, Beto Goncalves, dan penjaga gawang yang tengah naik daun, Mario Londok. Yang sangat disayangkan, perpindahan ini dilakukan tanpa adanya kompensasi atau biaya transfer sepeser pun kepada Persela.
Kejanggalan di Masa Transisi dan Akun LIAS
Situasi ini disinyalir merupakan dampak dari masa transisi kepemimpinan klub. Eksodus ini terjadi tak lama setelah Fariz Julinar Maurisal mundur dari posisi CEO Persela, menyusul langkah istrinya yang mengakuisisi mayoritas saham PSIS Semarang. Seperti dikutip nismedia.id dari laman Beritajatim, asisten pelatih sekaligus manajer sementara Persela, Ragil Sudirman, mengungkapkan bahwa ada celah yang dimanfaatkan saat akun LIAS (sistem administrasi liga online) belum diserahkan sepenuhnya kepada manajemen baru.
“Saat itu dimanfaatkan untuk mengeluarkan beberapa pemain Persela, serta membuatkan surat keluar,” ungkap Ragil. Ia menegaskan bahwa dalam kondisi kontrak yang masih berjalan, seharusnya ada biaya kompensasi untuk menebus sisa masa bakti pemain. Tanpa adanya koordinasi dan nilai transfer, pihak manajemen baru merasa kecolongan secara sistem.
Bantahan Terkait Skema Pelatih dan Kebutuhan Tim
Pihak Persela juga dengan tegas menepis kabar yang menyebutkan bahwa para pemain ini dilepas karena tidak masuk dalam skema pelatih baru. Menurut Ragil, pernyataan tersebut hanyalah klaim sepihak untuk membenarkan proses perpindahan yang tidak profesional tersebut. Ia mencontohkan sosok Mario Londok yang performanya sedang gemilang namun tetap “dikeluarkan” dari sistem tanpa izin manajemen saat ini.
Kehilangan enam pemain berpengalaman sekaligus tentu menjadi tantangan berat bagi Persela Lamongan yang sedang bersiap mengarungi babak Championship musim 2025/2026. Kini, manajemen fokus untuk membenahi administrasi internal dan memperjuangkan hak klub agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.






