Hak Siar Liga Putri Spanyol Anjlok, Indonesia Women League Dianggap Lebih Siap

Hak Siar Liga Putri Spanyol Anjlok, Indonesia Women League Dianggap Lebih Siap
Ilustrasi Indonesia Women League (Instagram: @timnasindonesia)
Promo Allegiant

Nismedia.id - Nilai hak siar sepak bola putri Spanyol, Liga F anjlok drastis dari 7 juta Euro menjadi hanya 3 juta Euro per musim. Penurunan ini membuat Indonesia Women League yang baru akan dilaksanakan dinilai lebih matang.

DAZN yang sebelumnya menanggung biaya hak siar sebesar 7 juta Euro, akhirnya memutuskan tidak memperpanjang kontrak karena dinilai tidak menguntungkan secara bisnis. Hingga beberapa minggu sebelum musim baru dimulai, belum ada penyiar yang berani mengambil alih dengan harga yang ditawarkan.

Situasi ini membuat seluruh struktur keuangan klub-klub di Spanyol terancam goyah, bahkan ada kekhawatiran pertandingan tidak akan disiarkan sama sekali di musim baru. Krisis ini menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara lain yang sedang merintis kompetisi sepak bola putri, termasuk Indonesia.

Alih-alih langsung memaksakan standar mewah dengan biaya yang melambung tinggi, pendekatan bertahap dan realistis justru jauh lebih penting demi keberlangsungan jangka panjang. Keinginan untuk tampil megah dalam sekejap bisa berakhir dengan kegagalan jika fondasi ekonomi dan dukungan penonton belum kuat.

Dikutip Nismedia.id dari akun Instagram @garudaonside, penurunan nilai hak siar Liga F ini semakin memperkuat alasan mengapa PSSI membangun Indonesia Women’s League dengan hati-hati dan terukur. Indonesia Women League (IWL) direncanakan akan resmi bergulir pada bulan Oktober tahun ini.

Kompetisi pertama ini tidak akan memanggil puluhan klub sekaligus dengan sistem penuh kandang-tandang yang menelan biaya besar. Sebagai gantinya, IWL menggunakan format terpusat dengan hanya melibatkan enam klub peserta di musim perdana.

Enam tim yang telah dipastikan ikut serta adalah Persija, Persita, Garudayaksa, Dewa United, Persikad, dan Bekasi FC. Keputusan membatasi jumlah peserta bukan tanpa alasan. Dengan jumlah yang terkendali, biaya operasional menjadi lebih kecil dan dapat dikelola dengan baik tanpa membebani anggaran klub maupun penyelenggara.

Fokus utama penyelenggaraan di musim-musim awal bukanlah kemegahan atau kemewahan, melainkan konsistensi dan keberlanjutan. PSSI memahami bahwa jika memaksakan format besar di awal, risiko klub berhenti di tengah jalan karena ketiadaan dana sangat besar. Hal itu justru akan merusak citra sepak bola putri di mata masyarakat dan mematikan semangat para pemain.

Pelajaran dari Spanyol menunjukkan bahwa nilai komersial tidak bisa dipaksakan tumbuh dalam semalam. Meskipun kualitas permainan di lapangan sudah bagus, dukungan penonton, pendapatan sponsor, dan minat penyiar butuh waktu untuk berkembang secara sehat.

Pendekatan yang diambil PSSI sejalan dengan prinsip membangun dari bawah ke atas. Dengan memulai skala kecil namun teratur, organisasi dapat memperbaiki sistem kompetisi, meningkatkan kualitas penyelenggaraan, dan membangun basis penonton secara bertahap.

Kini, semua mata tertuju pada pelaksanaan perdana Indonesia Women’s League pada Oktober nanti. Keenam klub yang bertanding diharapkan dapat memberikan pertandingan berkualitas sekaligus menjadi contoh bagi klub lain untuk ikut bergabung di musim-musim berikutnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *