Hansi Flick Yakin Barcelona Bangkit Lawan Atletico Madrid di Copa del Rey

Hansi Flick Yakin Barcelona Bangkit Lawan Atletico Madrid di Copa del Rey
Hansi Flick saat konferensi pers. (laman: fcbarcelona.com)
Promo Allegiant

Nismedia.id - Pelatih FC Barcelona, Hansi Flick, menolak lempar handuk meski timnya baru saja menelan kekalahan memalukan. Ia tetap yakin skuad Blaugrana mampu bangkit pada leg kedua semifinal Copa del Rey kontra Atletico Madrid.

Misi berat menanti Barcelona setelah dihajar 4-0 di kandang lawan. Namun, pelatih asal Jerman itu percaya keajaiban bisa terjadi di Camp Nou pada 3 Maret 2026 mendatang.

Kekalahan Telak di Civitas Metropolitano

Sebelumnya, Barcelona harus mengakui keunggulan telak tuan rumah pada leg pertama yang digelar Kamis (12/2/2026). Gawang Barca dibobol empat kali oleh Antoine Griezmann, Ademola Lookman, Julian Alvarez, serta gol bunuh diri Eric Garcia.

Sebagaimana dikutip nismedia.id dari Kompas.com, hasil ini membuat Atletico Madrid seolah sudah menapakkan satu kakinya di partai final. Meski demikian, Hansi Flick menegaskan bahwa perjuangan belum berakhir dan timnya siap membalikkan keadaan.

Optimisme Hansi Flick Lakukan Comeback

Flick menilai timnya memiliki kapabilitas untuk mengejar defisit gol tersebut jika bermain disiplin di kandang sendiri. Ia bahkan sudah memiliki hitung-hitungan taktis untuk mengejar ketertinggalan empat gol tersebut.

“Kami punya peluang untuk membalikkan keadaan. Kami bisa memenangkan masing-masing babak dengan skor 2-0,” ungkap Flick. Sebelum menghadapi laga penentuan, Barca harus fokus dulu menghadapi Girona, Levante, dan Villarreal di pentas Liga Spanyol.

Butuh Dukungan Penuh Cules

Untuk mewujudkan misi comeback atau remontada tersebut, Flick meminta kehadiran penuh para Cules di stadion. Dukungan suporter dinilai krusial untuk memompa semangat Lamine Yamal dan kawan-kawan.

“Kami mampu bangkit. Kami akan berjuang dan untuk itu kami membutuhkan dukungan para suporter di Spotify Camp Nou,” tutur Flick. Ia juga mengevaluasi bahwa kekalahan di leg pertama disebabkan oleh kurangnya intensitas pressing yang membuat timnya mudah kebobolan di babak pertama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *