
Nismedia.id - Gelombang Kritik Joan Laporta terhadap Real Madrid semakin memanaskan hubungan kedua klub raksasa Spanyol menjelang laga krusial dalam lanjutan kompetisi La Liga 2026/2027. Presiden Barcelona itu melontarkan kecaman terbuka atas tindakan manajemen rival abadi mereka yang dinilai terus merusak citra otoritas sepak bola domestik serta Komite Teknik Wasit. Petinggi klub asal Catalunya tersebut menilai bahwa serangan bertubi-tubi dari pihak Los Blancos merupakan bentuk ketidakmampuan klub dalam menerima situasi internal yang sedang mereka hadapi.
Pernyataan keras dari petinggi klub asal Catalunya tersebut muncul usai Real Madrid menuntut Presiden La Liga, Javier Tebas, untuk segera mundur dari jabatannya pada Jumat (16/10/2026). Tuntutan tersebut merupakan buntut dari perselisihan tajam mengenai kepemimpinan wasit dan tuduhan bias dalam kompetisi. Konflik terbuka ini menciptakan atmosfer memanas menjelang bentrokan bergengsi El Clasico yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober 2026.
Dukungan Penuh Barcelona
Laporta secara tegas memberikan pasang badan dan dukungan moral kepada Tebas yang dinilai sudah bertindak tepat dalam menjaga marwah kompetisi. Petinggi Barcelona tersebut menganggap bahwa La Liga sangat beruntung dipimpin oleh sosok yang kaya pengalaman dalam mengarungi dinamika konflik antar-klub. Menurutnya, serangan frontal yang dilancarkan Real Madrid justru berpotensi merusak tatanan kelembagaan sepak bola Spanyol secara keseluruhan.
“Saya ingin mengatakan betapa beruntungnya kita memiliki Javier Tebas sebagai presiden La Liga. Dia memiliki pengalaman yang dibutuhkan untuk menghadapi persoalan seperti ini,” ujar Laporta saat memberikan keterangan resmi kepada awak media. Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan posisi Barcelona yang berdiri di belakang jajaran pengurus liga dalam menghadapi tekanan dari tim ibu kota.
“Selain itu, dia memiliki penilaian yang tepat untuk menghadapi serangan-serangan yang dilancarkan Real Madrid terhadap La Liga. Mereka sepertinya ingin menghancurkan semuanya, mulai dari La Liga hingga Komite Teknik Wasit,” lanjut Laporta dalam wawancara bersama ESPN. Pria bernomor satu di jajaran pimpinan Barcelona itu menilai tindakan bertubi-tubi lawan sudah melewati batas kewajaran sebuah anggota kompetisi.
Laporta menambahkan bahwa tidak ada satu pun lembaga sepak bola domestik yang mampu memuaskan keinginan manajemen Real Madrid saat ini. Ia menilai kecenderungan menyalahkan pihak luar merupakan langkah keliru yang tidak sepantasnya ditunjukkan oleh klub sebesar Real Madrid.
Sorotan Jelang Laga El Clasico dan Tuntutan Evaluasi Internal
Ketegangan antara kedua kubu semakin meruncing lantaran Barcelona dan Real Madrid sedang bersaing ketat di papan atas klasemen sementara La Liga. Jelang bentrokan El Clasico pada 25 Oktober 2026, skuat asuhan jajaran kepelatihan Barcelona berhasil unggul enam poin atas sang rival abadi. Keunggulan poin tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memicu kepanikan di kubu Los Blancos hingga berujung pada aksi protes keras terhadap otoritas liga.
Eskalasi perselisihan semakin terlihat saat pendukung Real Madrid menyuarakan yel-yel tuntutan mundur terhadap Tebas dalam laga kandang di Stadion Santiago Bernabeu. Pihak manajemen klub ibu kota tersebut secara terbuka mengklaim aksi protes suporter saat menghadapi Sevilla sebagai bentuk kekecewaan publik atas kepemimpinan liga. Langkah mempublikasikan aksi penolakan tersebut di laman resmi klub dinilai Laporta sebagai upaya memperkeruh suasana menjelang laga akbar.
Melihat situasi persaingan yang kian panas, Laporta menyarankan agar manajemen Los Blancos lebih fokus membenahi performa dan keharmonisan skuat ketimbang terus mengkritik pihak luar. Menurutnya, kegagalan meraih hasil maksimal di lapangan merupakan akibat dari kebijakan internal klub itu sendiri. Oleh karena itu, introspeksi diri secara mendalam dianggap sebagai solusi paling bijak daripada menyalahkan jajaran wasit dan federasi secara terus-menerus.
Sumber: ESPN






