John Herdman Jadi Satu-satunya Pelatih yang Bertahan Usai Gagal Bawa Indonesia Lolos Fase Grup

John Herdman Jadi Satu-satunya Pelatih yang Bertahan Usai Gagal Bawa Indonesia Lolos Fase Grup
Potret John Herdman yang bertahan di Timnas Indonesia (Instagram: @timnasindonesia)
Promo Allegiant

Nismedia.id - Sejarah pahit terus berulang bagi Timnas Indonesia dalam ajang Piala AFF 2026. Dari 16 kali penyelenggaraan turnamen tersebut, sudah enam kali skuad Merah Putih gagal melaju dari babak fase grup.

PSSI tampaknya memiliki kebijakan tegas yang tak pernah diubah selama bertahun-tahun. Setiap kali pelatih gagal membawa Indonesia lolos dari fase grup Piala ASEAN, maka kursi kepelatihan pasti akan kosong tak lama setelah itu.

Pada tahun 2007 saat Peter White menjabat sebagai pelatih kepala. Hanya berselang satu hari setelah kepastian Indonesia tersingkir dari Piala AFF 2007, PSSI langsung memutus kontraknya.

Alur serupa terus berulang dari masa ke masa tanpa pengecualian. Pada Piala AFF 2012, Nil Maizar dipecat setelah gagal meloloskan tim. Alfred Riedl menyusul nasib yang sama pada edisi 2014, begitu pula Bima Sakti pada tahun 2018.

Pola ini seolah menjadi hukum yang tak tertulis di lingkungan sepak bola Indonesia. Shin Tae-yong pun akhirnya memastikan berulangnya sejarah tersebut pada tahun 2024. Kegagalannya membawa skuad U-22 dari fase grup membuatnya turun dari kursi pelatih kepala.

Dikutip Nismedia.id dari akun Instagram @aseanutdfc, meskipun John Herdman juga gagal membawa Timnas Indonesia lolos fase grup setelah imbang 1-1 atas Singapura. Namun dirinya dipastikan bertahan sebagai pelatih kepala skuad Garuda.

Berbagai spekulasi pun bermunculan terkait alasan bertahannya John Herdman. Ada yang menyebut kontrak yang masih panjang menjadi alasan utama, namun ada pula yang menilai PSSI kini memberi ruang lebih luas bagi pelatih untuk membangun tim secara bertahap.

Kini perhatian beralih ke langkah selanjutnya yang akan diambil oleh PSSI maupun oleh John Herdman sendiri. Apakah kepercayaan yang diberikan ini akan berbuah hasil pada kesempatan berikutnya? Atau justru mendapatkan perlakuan berbeda?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *