
Nismedia.id - Timnas Jepang dan Korea Selatan sama-sama harus mengakhiri perjalanan di Piala Dunia 2026 dengan hasil yang mengecewakan. Namun, perlakuan yang diterima kedua pelatih usai kekalahan menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok.
Timnas Jepang tumbang dengan skor tipis 1-2 saat berhadapan dengan Brasil di babak penyisihan grup, sementara Korea Selatan takluk 0-1 dari Afrika Selatan. Kekalahan ini membuat kedua negara Asia harus berhenti berjuang lebih awal dari target yang diharapkan.
Suasana pasca pertandingan di kedua negara pun berjalan dengan arah yang sangat berbeda. Di Korea Selatan, gelombang kemarahan dan kekecewaan meluap luas di media sosial dan lingkungan pendukung resmi tim nasional.
Situasi di bandara keberangkatan pelatih Korea Selatan menjadi sangat tegang dan penuh kerahasiaan. Pelatih tersebut terpaksa harus bergerak sembunyi-sembunyi menggunakan topi dan masker menuju AS.
Tekanan yang datang dari para penggemar timnas Korea Selatan dinilai sangat tinggi hingga membuat keamanan harus mengambil langkah khusus. Ia berencana melarikan diri ke Amerika Serikat dan menjauh dari sorotan publik.
Berbeda jauh dengan situasi di Korea, kedatangan pelatih Jepang di bandara kedatangan justru disambut dengan tepuk tangan yang hangat. Ratusan pendukung telah menunggu sejak lama untuk memberikan apresiasi atas usaha yang telah ditunjukkan tim.
Mereka tidak memandang hasil akhir yang kalah, melainkan melihat semangat dan permainan yang ditampilkan tim Jepang selama di turnamen. Bahkan, tidak ada satu pun kata-kata makian atau ejekan yang terdengar dari kalangan mereka.
Dikutip Nismedia.id dari akun Twitter @SOWIETK, seorang penggemar mulai menyanyikan lagu “Triumphal March (Aida)” sendirian di tengah keramaian. Lagu yang identik dengan kemenangan ini seolah menjadi pesan bahwa keberhasilan tidak melulu soal gelar juara.
Suara nyanyian tersebut perlahan diikuti oleh pendukung lain hingga memenuhi ruang tunggu keberangkatan bandara. Pelatih Jepang terlihat terharu dan sempat menundukkan kepala sebelum melambaikan tangan kepada seluruh orang yang hadir.
Perbedaan nasib yang dialami kedua pelatih ini menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan pengamat sepak bola internasional. Banyak yang menyoroti bagaimana budaya mendukung dan menerima kekalahan berjalan berbeda di dua negara maju Asia ini.






