Like Father Like Son, Tragedi Adu Penalti Kluivert Terulang

Like Father Like Son, Tragedi Adu Penalti Kluivert Terulang
Potret Justin Kluivert yang gagal selamatkan Timnas Belanda (Instagram: @justinkluivert)
Promo Allegiant

Nismedia.id - Belanda harus angkat koper lebih awal dari Piala Dunia 2026 setelah tumbang dalam laga yang menegangkan melawan Maroko. Kekalahan ini melibatkan Patrick Kluivert dan anaknya, Justin.

Pertandingan yang digelar di Stadion BBVA, Monterrey berlangsung sangat ketat selama 90 menit waktu normal tanpa ada gol yang tercipta. Kedua tim saling serang dan menciptakan peluang, namun tiupan peluit panjang mengakhiri babak pertama dengan skor masih kacamata.

Memasuki babak perpanjangan waktu, ketegangan semakin memuncak saat masing-masing tim berhasil mencetak satu gol seperti dikutip Nismedia.id dari akun media sosial resmi @onsoranje. Kedudukan imbang 1-1 bertahan hingga babak tambahan usai. 

Pada momen penentu yang menegangkan itu, nasib tidak berpihak kepada Belanda setelah hasil akhir adu penalti berakhir 2-3 untuk kemenangan Maroko. Satu momen yang paling diingat dari pertandingan ini adalah kegagalan Justin Kluivert saat melangkah ke titik putih. 

Tendangan yang dilepaskannya gagal menembus gawang lawan dan menjadi salah satu penyebab utama tersingkirnya timnya dari turnamen bergengsi ini. Kekecewaan mendalam tampak jelas dari raut wajah sang pemain usai pertandingan berakhir.

Peristiwa ini memunculkan catatan sejarah yang menyayat hati sekaligus unik bagi keluarga sepak bola ini. Tidak hanya sekedar kegagalan individu, hasil pertandingan ini mengulang kisah pahit yang pernah dialami oleh ayahnya sendiri puluhan tahun silam.

Patrick Kluivert juga pernah merasakan kepahitan yang sama persis saat membela seragam Timnas Belanda. Peristiwa itu terjadi pada ajang Piala Dunia 1998 dimana Belanda harus mengakui keunggulan lawan lewat jalur adu penalti.

Sementara itu, pelatih Timnas Belanda menyampaikan rasa hormat yang tinggi kepada seluruh pemain yang telah berjuang habis-habisan di lapangan. Ia menegaskan bahwa kegagalan dalam adu penalti bukanlah kesalahan satu orang saja, melainkan tanggung jawab bersama seluruh tim.

Banyak pihak yang berharap Justin tidak larut dalam kesedihan berlarut-larut dan segera bangkit untuk membuktikan kualitasnya. Namun tidak sedikit netizen Indonesia yang menghubungkannya dengan sikap ayahnya saat melatih skuad Garuda.

Sementara Maroko yang melaju ke babak 16 besar kini bersiap menghadapi tantangan lawan yang lebih berat di Piala Dunia 2026. Kemenangan ini menjadi bukti kekuatan mental tim Afrika yang mampu bertahan dalam tekanan tinggi hingga adu penalti berakhir.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *