
Nismedia.id - Persib Bandung meraih kemenangan tipis 1-0 atas Ratchaburi FC pada pertandingan leg kedua babak 16 besar AFC Champions League Two (ACL 2) 2025-2026. Pertandingan yang digelar di Stadion GBLA ini masih saja berakhir dengan aksi rasisme online oleh oknum suporter.
Meskipun berhasil memenangkan pertandingan, langkah Persib Bandung di ACL 2 tetap terhenti. Mengingat pada leg pertama Ratchaburi FC memenangkan pertandingan dengan skor 3-0. Secara agregat, Persib kalah 1-3 setelah sebelumnya tumbang 0-3 di leg pertama di markas lawan.
Gol tunggal Persib dicetak Andrew Jung pada menit ke-40 yang akhirnya disahkan wasit setelah melalui pemeriksaan VAR. Awalnya gol tersebut tidak disahkan karena dinilai offside oleh hakim garis. Sayangnya, upaya Maung Bandung untuk mengejar defisit gol terhambat setelah William Barros mendapatkan kartu merah pada menit 45+7.
Kemenangan pada laga tersebut seharusnya menjadi momen positif bagi seluruh komponen Persib Bandung. Namun, suasana bahagia berubah memprihatinkan karena terjadi insiden yang tidak diinginkan. Denison Junior menjadi korban teror rasisme dari oknum sebagian suporter setelah pertandingan usai.
Oknum suporter tersebut memberikan ujaran yang mengandung unsur rasis kepada striker Ratchaburi FC. Postingan terbaru istri Denilson Junior tentang anak bungsunya yang baru lahir ini dibanjiri komentar negatif. Komentar tersebut ditujukan kepada sang pemain yang berasal dari Brasil.
Banyak komentar yang menyamakan sang pemain dengan hewan-hewan seperti monyet, anjing, atau babi. Bahkan pemilik akun @ptr*fri melakukan spam komen dengan memberikan 6 emoticon monyet pada postingan itu seperti yang dikutip Nismedia.id dari Instagram @marianyfonte.
Sangat disayangkan hal-hal seperti ini masih terjadi. Perilaku ini kemungkinan tidak dilakukan oleh suporter Persib. Namun jika tidak ada tindak lanjut dari pihak berwenang maka akun-akun seperti itu akan terus bermunculan ketika mendapatkan momentum yang tepat.
Kasus rasisme ini bukanlah yang pertama kali terjadi di dunia sepak bola Indonesia dan internasional. Sebelumnya, pernah terjadi beberapa insiden serupa yang melibatkan pemain dan suporter dari berbagai klub. Pada Januari 2025 lalu, Alta Ballah juga menjadi korban rasisme dari oknum suporter di stadion yang sama.
Banyak pihak yang memberikan dukungan kepada Denilson Junior setelah insiden tersebut. Bahkan tidak sedikit Bobotoh yang klarifikasi jika hal-hal seperti itu hanya dilakukan oleh oknum suporter bukan dari pendukung Persib Bandung.
“Jangan dengar komentar mereka,kami bobotoh tidak seperti itu,semua ini pekerjaan orang tertentu. Salam dari Bandung !” tulis @p*bl****oo.
“Hey bro, aku suka Gameplaymu yang sangat luar biasa, aku fans jakarta paling Respect Suporter dari Klub Indonesia,” balas @mornin**tar.
Sementara itu, seorang penikmat sepak bola Thailand mengomentari SDM Indonesia yang masih sering melakukan rasisme kepada orang-orang berkulit hitam. Padahal Indonesia merupakan negara yang beragam baik suku maupun RAS.
“Satu hal yang masih sangat perlu ditingkatkan oleh masyarakat Indonesia adalah SDM dan tidak ada ruang untuk rasisme!!! ️Semua orang adalah manusia, dan semua orang berhak untuk saling menghargai. Penggemar Thailand mendukungmu Deni,” tulis @urg**bera.
Insiden teror rasisme terhadap Denilson Junior menjadi pengingat bagi seluruh pihak bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menghapuskan diskriminasi dari sepak bola Indonesia. Semoga kasus ini menjadi titik balik untuk menciptakan dunia sepak bola yang lebih baik dan inklusif bagi semua orang.






