Media Jepang Sarankan Hajime Moriyasu Latih Klub Ketimbang Jadi Pelatih Timnas Malaysia

Media Jepang Sarankan Hajime Moriyasu Latih Klub Ketimbang Jadi Pelatih Timnas Malaysia
Promo Allegiant

Nismedia.id - Spekulasi mengenai kepindahan pelatih Timnas Jepang, Hajime Moriyasu, untuk menangani Timnas Malaysia setelah Piala Asia 2027 mendapat tanggapan dingin dari publik Negeri Sakura. Media ternama asal Jepang, Nikkan Gendai, menilai sang juru taktik jauh lebih cocok membesut klub lokal atau berkarier di Eropa ketimbang menerima tawaran dari Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Isu ini sempat memicu perdebatan hangat di kalangan pengamat sepak bola Asia Tenggara yang mendorong kepindahan tersebut.

Rumor kedatangan juru taktik berusia 58 tahun itu sebelumnya merebak luas di Malaysia hingga memunculkan wacana pemberian nilai kontrak fantastis. Sejumlah pengamat lokal bahkan menyarankan otoritas sepak bola setempat menyiapkan alokasi gaji mencapai Rp1 miliar per bulan demi mendaratkan sang pelatih. Namun, pandangan yang berkembang di Jepang justru menganggap prospek melatih skuad Harimau Malaya sama sekali tidak sejalan dengan jalur karier sang pelatih.

Media Jepang Nilai Karakter Hajime Moriyasu Lebih Cocok Menangani Klub

Nikkan Gendai menegaskan bahwa intensitas pekerjaan di tingkat klub jauh lebih sesuai dengan kepribadian serta metode melatih sang manajer. Melatih tim nasional dianggap kurang ideal karena jadwal pertandingan yang sangat terbatas serta masa kumpul pemain yang terbilang singkat dalam kurun waktu satu tahun. Menurut media tersebut, bimbingan harian secara langsung menjadi kunci utama perkembangan anak asuhnya di lapangan.

Rangkaian proses pembinaan pemain muda yang berkelanjutan dinilai hanya bisa dicapai secara maksimal melalui rutinitas latihan harian di level klub. “Daripada melatih tim nasional yang berkumpul beberapa kali setahun untuk pertandingan singkat lalu bubar,” tulis Nikkan Gendai dalam keterangannya. “Melatih satu klub tempat Anda berlatih bersama setiap hari dan menyaksikan pertumbuhan langsung para pemain jauh lebih sesuai dengan kepribadiannya.”

Selain pertimbangan karakter melatih, fokus sang juru taktik setelah menuntaskan tugas di Piala Asia 2027 diprediksi bakal tertuju pada kompetisi antar-klub. Langkah tersebut dinilai menjadi pijakan paling realistis sebelum dirinya melangkah lebih jauh ke panggung sepak bola internasional yang lebih kompetitif. Publik Jepang pun berharap sang juru taktik tetap konsisten berada di jalur pembinaan sepak bola profesional tingkat tinggi.

Ambisi Menuju Eropa Dan Status Pelatih Interim Timnas Malaysia

Faktor utama yang membuat wacana kepindahan ke kawasan Asia Tenggara dinilai tidak masuk akal adalah cita-cita pribadi sang pelatih untuk berkarier di Benua Biru. Juru taktik berpaspor Jepang tersebut memiliki target besar untuk mencatatkan sejarah baru sebagai peracik strategi asal negaranya yang mampu memimpin klub papan atas Eropa. Media olahraga Jepang lainnya, Sakanowa, turut menegaskan bahwa rumor kepindahan ke kawasan Asia Tenggara berlawanan dengan rencana besarnya.

Media Nikkan Gendai menambahkan bahwa target jangka panjang sang pelatih sudah dirancang secara matang demi menembus persaingan ketat di benua Eropa. “Ambisi seumur hidup Moriyasu setelah Piala Asia adalah menjadi manajer Jepang pertama yang memimpin klub Eropa,” tulis Nikkan Gendai. “Lingkaran sepak bola Jepang menganggap prospek kepindahannya ke tim nasional Asia Tenggara lainnya sebagai sesuatu yang sepenuhnya bertentangan dengan jalur karier yang sebenarnya,” tambah Sakanowa.

Di sisi lain, otoritas tertinggi sepak bola Negeri Jiran hingga saat ini belum mengumumkan sosok juru taktik permanen untuk menahkodai tim nasional mereka. Tan Cheng Hoe saat ini masih memegang mandat sebagai pelatih interim setelah membawa skuad Harimau Malaya menempati peringkat ketiga pada ajang FIFA ASEAN Cup 2026. Meski sukses menyapu bersih turnamen tanpa kekalahan serta mencatatkan rekor tanpa kebobolan, ketidakpastian mengenai head coach utama masih membayangi persiapan tim menuju kualifikasi Piala Dunia 2030.

Sumber: Kompas

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *