Ramai FAM Masuk Nominasi, Ternyata Orang Malaysia Penuhi Jajaran Pimpinan AFC

Ramai FAM Masuk Nominasi, Ternyata Orang Malaysia Penuhi Jajaran Pimpinan AFC
Potret FAM yang penuhi jajaran pimpinan AFC (Instagram: fam.org)
Promo Allegiant

Nismedia.id - Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) baru-baru ini dinyatakan bersalah atas kasus pemalsuan data dalam proses naturalisasi tujuh pemain sepak bola. Temuan ini menimbulkan gelombang pertanyaan serius mengenai tata kelola AFC dan integrasi di dalam organisasi sepak bola negara tetangga tersebut.

Ironisnya, di tengah bayang-bayang tuduhan tersebut, FAM justru masuk ke dalam nominasi AFC Awards Bangkok 2026 dalam kategori Asosiasi Anggota AFC Terbaik tahun ini dengan peringkat emas. Nominasi ini menempatkan FAM berdampingan dengan dua asosiasi lain, yaitu Asosiasi Sepak Bola Hong Kong, China Terbatas, serta Federasi Sepak Bola India. Kehadiran FAM dalam daftar ini sontak memicu keraguan luas di kalangan pengamat sepak bola Asia.

Fenomena ini juga memunculkan sorotan tajam mengenai dominasi figur-figur asal Malaysia di jajaran kepemimpinan AFC sepanjang sejarah. Tercatat, sebanyak tiga dari sembilan orang yang pernah menjabat sebagai Presiden AFC berasal dari Malaysia. Nama-nama besar seperti Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj yang menjabat pada periode 1958 hingga 1977, kemudian Tan Sri Hamzah Abu Samah memimpin dari tahun 1978 hingga 1994, serta Yang Mulia Sultan Ahmad Shah yang memegang tampuk kepemimpinan AFC pada kurun waktu 1994 hingga 2002.

Kecukupan Malaysia di AFC tidak hanya terlihat pada posisi Presiden saja. Posisi Sekretaris Jenderal AFC juga didominasi oleh warga Malaysia dalam durasi yang jauh lebih panjang dibandingkan negara lain. Bahkan data menunjukkan bahwa enam dari tujuh Sekretaris Jenderal AFC sepanjang sejarah merupakan orang Malaysia.

Daftar Sekretaris Jenderal AFC dari Malaysia mencakup nama-nama yang cukup berpengaruh, dimulai dari Koe Ewe Teik yang menjabat pada tahun 1965 hingga 1974, kemudian Dato’ Teoh Chye Hin pada periode 1974 sampai 1978, dilanjutkan oleh Dato’ Peter Velappan yang memegang jabatan tersebut selama hampir tiga dekade, yaitu 1978–2007.

Setelah itu, Dato’ Paul Mony Samuel menjabat pada tahun 2007–2009, disusul Alexander Soosay pada periode 2009–2015, dan kini Dato’ Windsor John masih memegang jabatan tersebut sejak tahun 2015 hingga saat ini.

Pusat administrasi AFC pun secara fisik berlokasi di Malaysia, tepatnya di kota Kuala Lumpur. Kedekatan geografis dan struktur kepemimpinan yang didominasi oleh tokoh dari negara yang sama tentu menimbulkan persepsi di kalangan asosiasi anggota lainnya.

Pihak AFC sendiri belum memberikan penjelasan resmi terkait keterkaitan kasus pemalsuan data tersebut dengan proses penilaian penghargaan. Apakah komite penilai tidak mengetahui adanya proses hukum yang sedang berjalan, atau memang hal tersebut tidak masuk dalam pertimbangan penilaian?

FAM juga belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai status mereka sebagai nominasi AFC Awards 2026 di tengah proses hukum yang sedang dihadapi. Publik berharap ada kejelasan segera agar nama baik sepak bola Asia tidak semakin tercoreng oleh dugaan konflik kepentingan yang terus berulang.

Saat ini, mata dunia tertuju pada bagaimana AFC akan menanggapi situasi ini demi menjaga integrasi sepak bola Asia di mata internasional. Semoga transparansi dan keadilan tetap menjadi pegangan utama dalam menyelesaikan persoalan ini.

Sumber: wikipedia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *