
Nismedia.id - Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel, memberikan tanggapan resmi mengenai gelombang desakan mundur yang dilayangkan oleh kelompok suporter setianya. Tuntutan untuk meninggalkan kursi kepelatihan mencuat usai Laskar Mataram gagal mengamankan kemenangan dalam 5 laga awal Super League 2026/2027. Reaksi keras dari tribun penonton dinilai Van Gastel sebagai hal yang wajar mengingat ekspektasi tinggi masyarakat terhadap prestasi tim.
Laskar Mataram harus kembali mengakui keunggulan lawan setelah takluk 1-2 dari PSM Makassar pada pekan kelima yang berlangsung di Stadion Sultan Agung, Bantul, Jumat (16/10/2026) sore WIB. Kekalahan tersebut melengkapi catatan kelam Laskar Mataram yang baru mengoleksi satu poin dari lima pertandingan awal musim ini. Tren negatif ini membuat tim kebanggaan masyarakat Yogyakarta tersebut belum mampu keluar dari tekanan di papan bawah.
Sikap Jean-Paul van Gastel Menghadapi Tekanan Suporter
Merespons gelombang kekecewaan pendukung setia, Van Gastel menegaskan bahwa dirinya sangat memahami amarah yang dirasakan oleh para suporter. Ia menilai luapan emosi penonton merupakan bentuk kepedulian dan rasa cinta yang sangat mendalam terhadap klub. Juru taktik berlisensi UEFA Pro tersebut tidak merasa sakit hati dan menganggap tekanan publik sebagai bagian tak terpisahkan dari sepak bola profesional.
Menurut pelatih berusia 54 tahun itu, pencapaian satu poin dari lima laga memang wajar memicu kekecewaan besar di kalangan pendukung. Ia menyadari sepenuhnya bahwa hasil pertandingan sangat menentukan suasana batin seluruh elemen pencinta klub. “Saya pikir itu cukup normal. Jika setelah lima pertandingan Anda hanya memiliki satu poin, para suporter akan marah dan kecewa. Jadi, bagi saya, itu adalah hal yang normal,” ujar Van Gastel.
Lebih lanjut, mantan pemain tim nasional Belanda itu mengungkapkan bahwa seluruh jajaran tim merasakan kekhawatiran yang sama terkait performa skuad di lapangan. Pengurus, tim pelatih, dan para pemain bertekad untuk segera keluar dari situasi sulit demi mengembalikan kepercayaan publik. “Kami memiliki kekhawatiran yang sama dengan para suporter. Saya sangat memahami perasaan mereka dan itu cukup normal karena gairah dan cinta yang mereka miliki untuk klub dan kota mereka,” lanjutnya.
Evaluasi Kerja Keras dan Kondisi Skuad Laskar Mataram
Kegagalan memetik hasil maksimal pada laga kandang membuat posisi Laskar Mataram semakin mengkhawatirkan di papan klasemen sementara. PSIM Yogyakarta kini tertahan di posisi ke-16 dengan raihan satu poin dari hasil sekali imbang dan empat kali menelan kekalahan. Catatan statistik yang terpuruk di zona degradasi ini menuntut adanya perombakan skema permainan secara cepat dan tepat.
Van Gastel menegaskan bahwa dirinya terus memberikan tekanan tinggi pada diri sendiri untuk menemukan formula terbaik bagi tim. Tugas sebagai juru taktik menuntut waktu dan perhatian penuh tanpa henti demi mempersiapkan strategi bertanding yang matang. “Saya mungkin adalah orang yang memberikan tekanan lebih besar kepada diri sendiri dibandingkan orang lain di klub ini. Saya benar-benar bekerja keras 24 jam sehari, bahkan 26 jam karena Anda selalu berpikir,” tegas Van Gastel.
Ia memastikan bahwa seluruh usaha maksimal telah dikerahkan oleh tim pelatih untuk mengangkat prestasi Laskar Mataram pada laga-laga mendatang. Apabila hasil di lapangan belum sesuai dengan harapan, ia mengaku tetap merasa tenang karena telah bekerja dengan penuh integritas dan profesionalisme. Manajemen dan jajaran pelatih kini berfokus penuh melakukan evaluasi menyeluruh demi memutus tren buruk pada pertandingan berikutnya.
Sumber: Bola.com






