
Nismedia.id - Nama Janice Tjen (23) kini terukir dalam sejarah tenis Indonesia. Puncaknya adalah saat ia menjuarai WTA 250 Chennai Open 2025, mengakhiri puasa gelar tunggal WTA bagi Indonesia selama 23 tahun, terakhir oleh Angelique Widjaja (2002).
Kemenangan ini melesatkannya dari peringkat 500-an ke 53 besar dunia. Namun, di balik kemenangan bersejarah itu, ada kisah dramatis tentang “patah hati” yang menjadi titik balik kebangkitannya.
Final Pertama: “Hal yang Spesial” Berujung Patah Hati
Sebelum berpesta di Chennai, Janice Tjen lebih dulu mengukir sejarah di SP Open 2025 (Sao Paulo Open), Brasil, pada September lalu.
Laporan skor.id (8/11/2025) mencatat, Janice menembus final turnamen WTA untuk pertama kali dalam kariernya. Ia menjadi petenis Indonesia pertama yang mampu mencapai final turnamen WTA Tour sejak Angelique Widjaja pada 2002, menyamai jejak Yayuk Basuki dan Angie di Era Terbuka.
Langkahnya ke final pun impresif. Di babak semifinal, ia mengalahkan Francesca Jones 7-6 (0), 6-3, dalam waktu satu jam 32 menit.
Kemenangan itu adalah kemenangannya yang ke-63 musim ini (58 di antaranya di hard court). Kuncinya? Servis yang mematikan. Skor.id melaporkan Janice mengemas delapan aces, memenangi 90% poin saat servis pertama, dan 71% saat servis kedua.
“Saya dan pelatih melatih servis saya hampir setiap hari. Senang rasanya hal itu berguna sedikit demi sedikit,” kata Tjen kala itu. “Ini hal yang spesial… mampu menembus final adalah bonus,” ujarnya.
Namun, di final perdananya itu, ia harus takluk dari remaja asal Prancis, Tiantsoa Rakotomanga Rajaonah. Seperti diulas sports.sindonews.com (8/11/2025), kekalahan itu diakui Janice sebagai pengalaman paling berat dalam kariernya.
“Kekalahan sebelumnya benar-benar membuat hati saya hancur,” kenang Janice.
Penebusan Sempurna di Chennai
Patah hati di Sao Paulo itu tak berlangsung lama. Janice menjadikannya bahan bakar. Hanya berselang dua bulan, ia kembali menembus final di level yang sama, WTA 250 Chennai Open 2025.
Kali ini, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tampil dominan, Janice mengalahkan wakil Australia, Kimberly Birrel, 6-4, 6-3. Ia resmi menapak satu langkah lebih tinggi: dari finalis menjadi juara.
Musim 2025-nya memang gila: 6 gelar ITF, 1 gelar WTA 125, dan puncaknya 1 gelar WTA 250.
Perjuangan di Balik Layar: “Tenis Itu Mahal”
Lonjakan prestasi ini bukannya tanpa perjuangan. Lahir dari keluarga sederhana, Janice terkendala biaya. “Tenis itu olahraga mahal,” akunya kepada sports.sindonews.com.
Keluarganya memutuskan agar Janice menempuh jalur tenis universitas di AS (memperkuat Universitas Oregon dan Pepperdine University) untuk tetap berkembang.
Ia juga sempat kesulitan menemukan pelatih yang “nyambung”, sebelum akhirnya bertemu Christopher Bint asal Selandia Baru pada pertengahan 2024.
Kini, dari jalur kuliah, perjuangan finansial, dan patah hati di final pertamanya, Janice Tjen telah membawa harapan baru bagi tenis Indonesia.






