
Nismedia.id - Pelatih Timnas Putri Indonesia U-16, Timo Scheunemann, secara tegas menyatakan penolakannya apabila mendapatkan tawaran untuk mengarsiteki skuad senior Garuda Pertiwi. Juru taktik asal Jerman tersebut memilih untuk tetap fokus membina kelompok usia muda ketimbang menangani tim tingkat atas.
Keputusan tersebut didasari oleh passion dan panggilan jiwanya yang lebih tertarik untuk mengorbitkan para pesepak bola muda menjadi pemain profesional. Pelatih berpengalaman ini mengaku sangat menikmati perannya dalam proses pencarian bakat serta pengembangan karakter para atlet Merah Putih di lapangan hijau.
Komitmen Pembinaan Usia Muda Timnas Putri Indonesia
Timo Scheunemann menganggap peran sebagai pelatih kelompok usia muda jauh lebih krusial karena bertindak sebagai gatekeeper bagi talenta lokal. Seperti dikutip nismedia.id dari bolasport.com, keberadaan pelatih pembina sangat menentukan kualitas pesepak bola sebelum mereka melangkah ke level kompetisi yang lebih tinggi.
“Saya inginnya melatih yang muda jadi gatekeeper-lah. Karena itu enggak ada yang kenal pelatih U-17,” kata Timo.
Ia menambahkan bahwa kepuasan utamanya terletak pada proses melahirkan pemain berkualitas di setiap generasi, baik dalam tim putra maupun putri. Juru taktik kelahiran 1973 tersebut masih membukakan pintu untuk melatih kelompok usia di bawah 20 tahun, namun menutup rapat peluang menangani tim di atas rentang usia tersebut.
“Kalau U-20 masih mau sih, tapi di atas itu enggak mau. Karena saya maunya membina, menciptakan pemain. Jiwa saya dan saya sudah lakukan seperti saya sudah pernah bilang, di depan layar ataupun di belakang layar, setiap generasi ada pemain saya yang di timnas cowok, ya sekarang cewek,” dia menambahkan.
Tantangan Dan Spesialisasi Dalam Pencarian Bakat
Menurut pelatih berkebangsaan Jerman tersebut, mengasuh tim kelompok usia memiliki tingkat kesulitan tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan tim senior. Program latihan serta strategi pendampingan yang disiapkan membutuhkan pendekatan khusus agar pengembangan potensi pemain muda dapat berjalan secara optimal.
Proses pemantauan bakat juga dinilai memerlukan keahlian serta integritas tinggi agar pemain yang terpilih benar-benar berdasarkan kualitas teknis di lapangan. Hal tersebut menjadi tantangan besar yang dinikmatinya demi memajukan prestasi olahraga tanah air di pentas internasional.
“Karena kan kalau pencarian bakat itu dua hal penting. Satu objektivitas, enggak ‘masuk angin’, sama kemampuan, gitu. Jadi enggak bisa diremehkan itu, enggak semua pelatih bisa,” ujar Timo.






