Terancam Degradasi dan Rugi Rp5,6 Triliun, Pemain Tottenham Hotspur Terancam Mendapatkan Potongan Gaji

Terancam Degradasi dan Rugi Rp5,6 Triliun, Pemain Tottenham Hotspur Terancam Mendapatkan Potongan Gaji
Potret pemain Tottenham yang terancam mendapatkan potongan gaji (Instagram: @spursofficial)
Promo Allegiant

Nismedia.id - Tottenham Hotspur menerima kekalahan pahit dari Crystal Palace di laga pekan ke-27 Premier League 2025-2026 dan para pemainnya terancam mendapatkan potongan gaji. Hasil ini membuat Spurs berada semakin dekat dengan zona degradasi. 

Laga yang berlangsung di Stadion Tottenham Hotspur pada Jumat 6 Maret 2026 berakhir dengan skor akhir 1-3 untuk kemenangan Crystal Palace. Kekalahan ini membuat posisi Tottenham di klasemen semakin mengkhawatirkan. Klub berjuluk The Lilywhites kini berada di peringkat ke-16 dengan koleksi 29 poin dari 26 pertandingan.

Ancaman degradasi bukan hanya masalah prestise semata. Klub berpotensi mengalami kerugian hingga lebih dari 250 juta Euro atau setara dengan Rp5,6 triliun jika turun ke Championship. Kerugian tersebut berasal dari penurunan pendapatan hak siar, pertandingan, dan komersial secara signifikan.

Menurut laporan BBC, pendapatan hak siar Tottenham akan turun drastis dari 128 juta Euro menjadi 48 juta Euro dalam bentuk kompensasi degradasi. Pendapatan dari Liga Champions sebesar 71 Euro juta juga akan hilang sepenuhnya jika klub gagal bertahan di kasta utama.  

Dampak finansial yang besar tersebut akan semakin memperparah kondisi keuangan klub. Tottenham telah merugi 129 juta Euro pada tahun lalu berdasarkan laporan keuangan yang ada. Tanpa pendapatan utama dari Premier League, stabilitas keuangan klub akan semakin terganggu.

Dikutip Nismedia.id dari Instagram @theathleticfc, para pemain juga akan merasakan konsekuensi finansial jika degradasi terjadi. Sebagian besar pemain Tottenham Hotspur akan dikenai pemotongan gaji sekitar 50 persen jika klub terdegradasi dari Premier League 2025-2026.

Klausul ini diterapkan di semua kesepakatan kontrak di era kepemimpinan Daniel Levy. Klausul tersebut memberikan perlindungan bagi Tottenham terhadap skenario terburuk jika turun kasta. Banyak klub di Premier League menerapkan klausul serupa untuk mengantisipasi penurunan pendapatan akibat degradasi. Pendapatan klub sangat bergantung pada hak siar televisi yang nilainya fantastis di kasta utama.

Beberapa pemain baru seperti Conor Gallagher dan Souza mungkin dikecualikan dari klausul pemotongan gaji. Kedua pemain tersebut bergabung setelah Daniel Levy mengundurkan diri sebagai CEO pada bulan September tahun lalu. Namun, hampir seluruh pemain senior akan terkena dampak jika skenario terburuk terjadi.

Pemotongan gaji sebesar 50 persen tentu bukan angka kecil mengingat rata-rata gaji pemain utama Tottenham menyentuh ratusan ribu poundsterling per pekan. Kondisi ini berpotensi memicu eksodus pemain bintang yang ingin menjaga nilai kontrak dan karir mereka di level tertinggi.  

Bagi pemain muda, degradasi mungkin membuka peluang menit bermain yang lebih banyak. Namun dari sisi finansial, mereka tetap akan merasakan konsekuensi pemangkasan pendapatan. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi klub dalam mempertahankan talenta muda berkualitas.

Tottenham saat ini masih memiliki sembilan pertandingan tersisa untuk menghindari degradasi. Manajer interim Igor Tudor yang baru saja menggantikan Thomas Frank pada 14 Februari 2026 memiliki misi utama menyelamatkan klub dari jeratan turun kasta. Tudor menyampaikan optimisme dan menjanjikan penampilan yang berbeda di laga-laga mendatang.

Klub yang telah bermain di Premier League sejak pembentukan kompetisi pada tahun 1992 ini sedang menghadapi masa-masa sulit. Keberadaan mereka di kasta utama telah menjadi landasan model keuangan dan perencanaan jangka panjang. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *