
Nismedia.id - Keputusan Komite Eksekutif Federasi Pesta Olahraga Asia Tenggara (SEAGF) yang tidak memasukkan cabang olahraga panjat tebing dalam daftar 43 cabang olahraga untuk pesta olahraga regional mendatang memicu kekecewaan. Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) menilai absennya Panjat Tebing SEA Games 2027 berpotensi mengganggu jalur pembinaan atlet muda Merah Putih di panggung internasional.
Keputusan tersebut sangat mengejutkan banyak pihak mengingat tim panjat tebing Indonesia selalu tampil dominan dan menjadi lumbung medali emas pada edisi-edisi sebelumnya. Absennya ajang ini dikhawatirkan memangkas kesempatan para pemanjat muda untuk mematangkan jam terbang sebelum melangkah ke level yang lebih tinggi seperti Asian Games dan Olimpiade.
Dampak Pencoretan Terhadap Pembinaan Atlet
Sekretaris Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (Sekum PP FPTI), Wahyu Pristiawan Buntoro, menegaskan bahwa pencapaian gemilang para atlet tidak didapatkan secara instan. Prestasi tinggi di atas dinding pemanjatan merupakan buah dari latihan keras yang terprogram secara konsisten serta iklim kompetisi yang sehat di tingkat nasional.
“Selain itu, kompetisi berkualitas di dalam negeri juga menjadi penentu,” ujar Pristiawan dalam keterangan resminya.
Menurut Pristiawan, ajang multi-event regional ini merupakan batu loncatan yang sangat krusial bagi proses regenerasi atlet. Tanpa kehadiran cabang olahraga tersebut di panggung Asia Tenggara, fase penempaan mental bertanding bagi para pemanjat muda Indonesia otomatis akan terputus.
Rekor Manis Tim Merah Putih dan Prospek Nomor Unggulan
Indonesia memiliki catatan prestasi yang sangat membanggakan setiap kali cabang olahraga panjat tebing dipertandingkan pada ajang regional ini. Pada edisi 2011, tim Merah Putih sukses menyapu bersih sembilan medali emas dari sepuluh nomor yang dilombakan, disusul raihan empat medali emas dari enam nomor pada dua tahun lalu.
Deretan nama atlet muda seperti Ardana Cikal Damarwulan dan Alma Ariella Tsany yang meraih emas nomor lead putra dan putri saat itu masih masuk kelompok umur di bawah 17 tahun. Sementara itu, Antasyafi Robby Al Hilmi serta Puja Lestari yang menyabet emas nomor speed perorangan juga masih bersaing di kategori usia di bawah 19 tahun.
Selain nomor speed yang terus merajai berbagai ajang internasional, nomor lead Indonesia juga menunjukkan perkembangan pesat di tingkat dunia. Keberhasilan pemanjat Putra Tri Ramadani menduduki peringkat kedua World Climbing Series 2026 menjadi bukti nyata peningkatan kualitas atlet Indonesia di panggung global.
Potensi Pengurangan Medali Emas Kontingen Indonesia
Dihapusnya cabang ini membuat Indonesia tidak hanya kehilangan sarana pematangan atlet muda, melainkan juga potensi pundi-pundi medali emas yang cukup signifikan. Pencoretan ini diprediksi akan memengaruhi posisi klasemen akhir perolehan medali kontingen Indonesia secara keseluruhan di ajang tersebut.
“Ini bukan soal untung rugi bagi panjat tebing, yang pasti perolehan medali Indonesia akan berkurang tanpa cabor panjat tebing di SEA Games 2027,” tegas Pristiawan.
Meski menghadapi situasi yang kurang menguntungkan, FPTI berkomitmen untuk terus menjaga ritme pembinaan dan pengiriman atlet ke berbagai kejuaraan internasional lainnya. Langkah ini diambil agar momentum kebangkitan serta dominasi panjat tebing Indonesia di level dunia dapat terus dipertahankan.
Sumber: Detik






