
Dua musim beruntun, Eduardo Camavinga harus meninggalkan lapangan lebih awal saat membela Real Madrid berlaga di babak perempat final UCL. Insiden yang terjadi pada April 2025 dan April 2026 ini disebut-sebut disebabkan oleh keputusan kontroversial wasit.
Pola pelanggaran ini memiliki kemiripan yang mencolok namun dengan penyebab yang sedikit berbeda. Pemain asal Prancis tersebut harus menerima kartu merah yang membuat timnya bermain dengan kekurangan pemain di momen krusial.
Pada musim sebelumnya, Camavinga dikeluarkan dari lapangan saat menghadapi Arsenal. Pelanggaran yang dilakukan kala itu berupa tindakan membuang bola yang dinilai wasit sebagai perilaku tidak sportif. Situasi tersebut mengubah jalannya pertandingan dan memaksa Los Blancos bertahan dengan tekanan berat sejak awal.
Berbeda dengan tahun lalu, insiden terbaru saat melawan Bayern Munchen terjadi karena alasan yang nyaris terbalik. Kali ini, Camavinga dikenai kartu merah lantaran dianggap membawa-bawa bola dengan cara yang melanggar aturan permainan. Keputusan wasit ini sontak memicu kontroversi besar di kalangan pengamat dan pendukung klub.
Dikutip Nismedia.id dari Instagram @faktabola, pola kejadian yang berulang ini menjadi sorotan tajam publik sepak bola. Banyak yang mempertanyakan konsistensi serta keputusan pengadil lapangan yang dianggap merugikan pihak Real Madrid dalam dua tahun berturut-turut. Situasi ini pun menjadi pembahasan utama usai laga berakhir.
Kritikan pedas langsung dilontarkan oleh pihak klub melalui kanal resmi mereka, RMTV. Mereka menilai keputusan tersebut sangat tidak masuk akal dan sulit diterima oleh logika sepak bola. Pertanyaan besar pun muncul mengenai seberapa sering kejadian serupa terjadi di level kompetisi tertinggi Eropa.
“Jujurlah. Kapan terakhir kali kamu melihat seorang pemain dikartu merah karena situasi seperti itu? Kapan terakhir kali? Ini sama sekali tidak masuk akal,” ujar pernyataan yang disampaikan melalui RMTV.
Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa juga angkat bicara terkait insiden yang menimpa Camavinga. Ia menyatakan kebingungannya melihat wasit mengambil keputusan sedrastis itu hanya karena situasi sepele. Menurutnya, tindakan tersebut tidak pantas dihukum dengan pengusiran pemain dari lapangan.
“Bagaimana bisa mengusir pemain karena situasi seperti itu? Saya pikir wasit tidak tahu Camavinga sudah mendapat kartu kuning,” tutur Arbeloa.
Lebih jauh, Arbeloa menegaskan bahwa kehadiran wasit justru menjadi faktor penentu yang merusak kualitas pertandingan. Keputusan yang diambil dinilai terlalu keras dan mengubah dinamika permainan secara drastis. Hal ini membuat jalannya pertandingan tidak lagi berjalan sesuai dengan sportivitas yang seharusnya dijaga.
“Wasit merusak semuanya. Ia merusak pertandingan,” tegas mantan pemain internasional Spanyol tersebut.
Kasus ini kembali menambah catatan panjang mengenai kontroversi penggunaan VAR dan keputusan wasit di UCL. Banyak pihak berharap adanya evaluasi mendalam agar kejadian serupa tidak terus terulang di masa mendatang.
Sampai saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak UEFA terkait keputusan yang diambil wasit pada pertandingan tersebut. Real Madrid pun kemungkinan besar akan memantau perkembangan situasi ini terkait potensi sanksi tambahan atau banding yang bisa diajukan.














Tinggalkan komentar