Korea Selatan Tersingkir di Fase Grup Piala Dunia 2026, Catatan Masa Lalu Diungkit 

Korea Selatan Tersingkir di Fase Grup Piala Dunia 2026, Catatan Masa Lalu Diungkit 
Potret Timnas Korea Selatan yang gagal di fase grup (Instagram: @thekfa)
Promo Allegiant

Nismedia.id - Kekalahan telak Timnas Korea Selatan dengan skor 0-1 atas Afrika Selatan membuat langkah mereka terhenti sejak fase grup Piala Dunia 2026. Hasil ini menjadi pukulan berat bagi harapan publik dan seluruh insan sepak bola di Negeri Ginseng itu.

Kekalahan ini seakan kembali kepada Piala Dunia 2014 lalu yang keduanya sama-sama menghentikan Timnas Korea Selatan di babak penyisihan grup. Setelah kegagalan ini, banyak kritik mulai bermunculan.

Publik dan pengamat sepak bola mulai mempertanyakan kinerja serta keberlangsungan jabatan pelatih kepala Hong Myung-bo di tengah kegagalan mencapai target utama tahun ini. Suara-suara yang menuntut pergantian pelatih terdengar semakin nyaring.

Banyak pihak menilai bahwa perubahan kepemimpinan teknis menjadi langkah yang paling mendesak dilakukan untuk memulihkan kembali nama baik dan kualitas permainan Timnas Korea Selatan.

Namun di balik derasnya kritik yang muncul belakangan ini, ada fakta menarik yang mengingatkan kembali pada peristiwa yang terjadi dua tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, ketika proses penunjukan pelatih sempat diwarnai masalah yang memicu kritik terhadap Park Joo-ho dan Park Moon-sung.

Dimana sebagian besar lingkungan sepak bola Korea Selatan justru tampak diam seribu bahasa. Banyak pihak yang kala itu seolah berpura-pura tidak mengetahui adanya persoalan mendasar dalam sistem pengelolaan tim maupun prosedur yang berjalan.

Hal ini diungkapkan dalam unggahan yang dikutip Nismedia.id dari akun Twitter @sams_a_m.2. Dalam catatan tersebut, terlihat jelas perbedaan sikap yang sangat mencolok antara masa lalu dan situasi yang terjadi saat ini pasca kegagalan di panggung dunia. 

“Saat itu mereka diam saja dan tidak angkat bicara, namun sekarang justru ikut-ikutan mengkritik Hong Myung-bo serta menuntut agar ia segera diberhentikan dari jabatannya. Hal ini terlihat sangat lucu dan ketidakkonsistenannya sangat terlihat jelas oleh siapa saja,” tulisnya.

Peran Park Joo-ho dan Park Moon-sung menjadi sorotan utama. Meskipun keduanya dinilai bukan merupakan bagian dari lingkaran dalam industri sepak bola. Sayangnya mereka adalah sosok yang kini mengeluarkan suara paling keras dalam menyampaikan kritik dan menuntut perubahan. 

Hal ini pun memicu pertanyaan mengapa keterlibatan mereka baru terasa kuat saat persoalan sudah meluas ke ranah publik yang lebih luas. Berdasarkan catatan yang sama, sudah ada sekelompok kecil yang menyampaikan bahwa terdapat kekurangan maupun masalah dalam sistem yang diterapkan. 

Namun suara mereka kala itu tidak didengar luas atau justru tertutup oleh sikap diam pihak-pihak yang kini tampak paling vokal. Kini, keterlibatan dua tokoh tersebut bahkan telah meluas hingga ke ranah resmi dengan melibatkan Komite Etik sepak bola setempat.

Keterlibatan sampai ke tingkat lembaga pengawas etika ini menunjukkan bahwa persoalan yang ada bukan sekadar perbedaan pendapat biasa, melainkan menyentuh aspek prosedur dan tata kelola organisasi yang mendasar. 

Hal ini juga mempertegas bahwa masalah yang terjadi bukan hanya bermula dari kegagalan di lapangan hijau semata, melainkan akumulasi dari berbagai persoalan yang sudah lama tidak diselesaikan dengan tuntas.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *