
Insiden kekerasan di EPA Super League 2025-2026 yang melibatkan pemain dan pelatih Bhayangkara Presisi Indonesia U-20 menjadi sorotan publik usai laga melawan Dewa United U-20. Ardian Satya berencana menindak hukum peristiwa ini.
Kompetisi usia muda yang seharusnya menjadi wadah pembinaan bakat malah menjadi ajang saling serang. Banyak pihak yang menyayangkan tindakan tersebut karena bisa merusak citra sepakbola tanah air di mata generasi penerus.
Ketegangan yang terjadi di akhir pertandingan sempat membuat suasana menjadi ricuh dan memancing reaksi dari kedua kubu. Beberapa rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan adegan pemukulan oleh sejumlah pihak.
Presiden Dewa United FC mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam terkait peristiwa yang menimpa tim asuhannya. Ia menegaskan bahwa kejadian ini tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa adanya tindak lanjut ke jalur hukum kepada semua pelaku yang terlibat.
“Saya akan proses secara hukum untuk semua yang melakukan kekerasan. Karena bukan hanya pemain tapi juga ada pelatih yang melakukan pemukulan. Saya sangat kecewa dengan insiden ini,” tegasnya seperti dikutip Nismedia.id dari akun Instagram @idextratime.
Menurut Ardian, keterlibatan pelatih dalam aksi kekerasan menjadi hal yang paling disayangkan dan patut mendapatkan perhatian khusus. Sebagai sosok yang menjadi panutan, pelatih seharusnya mampu mengendalikan emosi serta memberikan contoh perilaku yang baik bagi para pemain.
“Klub juga (Bhayangkara) harusnya bertanggung jawab untuk mendidik moral dan adab semua pemain mereka. Bukan hanya menekan menjadi juara, karena ini hanya kompetisi usia muda,” tambah Ardian.
Ardian juga mempertanyakan sistem pembinaan yang diterapkan oleh tim lawan, mengingat insiden seperti ini kerap terjadi di berbagai level pertandingan. Dampak jangka panjangnya tentu akan merugikan perkembangan sepak bola nasional secara keseluruhan.
Pihak manajemen Dewa United saat ini sedang mengumpulkan berbagai bukti yang diperlukan untuk memperkuat proses hukum yang akan dijalankan. Semua dokumen tersebut akan diserahkan kepada pihak berwenang agar proses penanganan berjalan objektif dan transparan.
Selain melalui jalur hukum, klub juga berencana melaporkan peristiwa ini kepada otoritas sepak bola nasional seperti PSSI dan Komisi Disiplin. Langkah ini diambil agar ada sanksi tegas yang diberikan kepada tim yang bersangkutan sebagai efek jera.














Tinggalkan komentar