Psikolog Beri Tanggapan Keras Terkait Insiden Fadly Alberto Baru-Baru Ini

Redaksi NIS Media

22 April 2026

2
menit
Psikolog Beri Tanggapan Keras Terkait Insiden Fadly Alberto Baru-Baru Ini
Potret tendangan kungfu Fadly Alberto. (laman: detik.com)
Promo Siap Allegiant

Aksi tendangan kungfu dalam ajang Elite Pro Academy (EPA) 2025/2026 memicu sorotan tajam publik pencinta sepak bola. Insiden Fadly Alberto di laga Bhayangkara FC U-20 melawan Dewa United U-20 menjadi bukti nyata pentingnya kematangan emosi atlet muda yang berjuang maksimal di lapangan.

Peristiwa yang terjadi di Stadion Citarum Semarang tersebut membuka mata banyak pihak bahwa sepak bola bukan sekadar adu teknik. Usia 20 tahun dinilai sebagai fase transisi krusial di mana kontrol emosi pemain belum sepenuhnya terbentuk sempurna.

Pentingnya Peran Psikolog Usai Insiden Fadly Alberto

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kumala Windya R, menjelaskan bahwa sikap reaktif di lapangan adalah tanda kurangnya regulasi emosi. Menurutnya, pembinaan atlet tidak boleh hanya bertumpu pada kemampuan taktik semata.

“Respons gampang panas seringkali bukan hanya soal kepribadian, tetapi juga keterampilan regulasi emosi yang belum terlatih secara optimal,”

Kumala menambahkan bahwa pemain membutuhkan latihan mental skills untuk menghadapi berbagai provokasi pertandingan. Seperti dikutip nismedia.id dari Kompas.com, kehadiran pakar psikologi merupakan bagian integral dari ekosistem sepak bola yang sehat.

“Atlet perlu memiliki strategi praktis saat terpancing, seperti jeda sejenak (pause), teknik pernapasan, dan mengalihkan fokus kembali pada permainan,”

Penanaman Nilai Moral Buntut Insiden Fadly Alberto

Mantan psikolog Timnas Putri Indonesia tersebut juga menekankan bahwa kompetisi usia muda harus menjadi ruang belajar yang utuh. Setiap atlet wajib ditanamkan nilai-nilai dasar Olimpiade (Olympism) agar tidak mudah kehilangan kendali.

Berikut adalah tiga nilai utama yang wajib dimiliki pemain demi menjaga sportivitas saat bertanding:

  • Excellence: Berusaha maksimal tanpa mengorbankan etika.
  • Respect: Menghargai lawan, wasit, dan diri sendiri.
  • Friendship: Membangun relasi positif selama bertanding.

“Dengan penguatan tiga nilai ini, atlet muda tidak hanya berkembang secara performa, tetapi juga memiliki kematangan emosi yang membuatnya tidak mudah terpancing,”

Tinggalkan komentar

Berita Terkait