
Nismedia.id - Sirkuit Sepang secara mengejutkan resmi ditunjuk kembali untuk menggelar balapan F1 pada musim 2026 mendatang. Penunjukan mendadak ini dilakukan oleh pihak penyelenggara demi menggantikan Grand Prix Bahrain yang terpaksa dipindahkan lokasinya.
Langkah darurat ini diambil menyusul meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu agenda olahraga internasional. Kepastian kembalinya ajang ini ke Negeri Jiran diumumkan secara resmi pada Minggu (26/7/2026) dan mengakhiri masa kerinduan publik Sepang selama sembilan tahun.
Penyesuaian Rute Dan Kesiapan Balapan F1 Di Sirkuit Sepang
Masuknya Sirkuit Sepang ke dalam kalender kejuaraan musim ini dinilai sangat strategis karena mampu menjaga efisiensi rute triple header. Jadwal baru ini menempatkan Malaysia di antara gelaran Grand Prix Azerbaijan pada 26 September dan Grand Prix Singapura pada 11 Oktober 2026.
“Sekali lagi, olahraga ini telah menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi, menemukan solusi, dan menghadirkan momen mendebarkan bagi semua fan Formula 1,” ucap CEO Formula 1, Stefano Domenicali.
Meski sudah cukup lama absen dari ajang jet darat, lintasan sepanjang 5,5 kilometer tersebut diyakini tidak memerlukan perombakan besar untuk mendapatkan homologasi teknis dari FIA. Pengalaman rutin menggelar ajang MotoGP menjadi bukti kelayakan infrastruktur Sepang dalam menyelenggarakan balapan kelas dunia.
Keuntungan Finansial Dan Skema Bantuan Asing
Penunjukan mendadak ini menjadi berkah tersendiri bagi pihak pengelola lokal karena seluruh pembiayaan ajang ini akan ditanggung penuh oleh pemerintah Bahrain, seperti dikutip nismedia.id dari BolaSport.com. Hal tersebut membebaskan Malaysia dari beban finansial yang amat besar.
Sebelumnya, tingginya biaya hak penyelenggaraan yang mencapai 70 juta dolar AS atau sekitar Rp1,25 triliun per tahun menjadi alasan utama Malaysia mundur dari ajang F1 pada 2017. Jika ditambah dengan biaya operasional, total anggaran yang harus disiapkan pengelola sebelumnya bisa menembus angka Rp1,32 triliun.
“Dari segi operasional, saya rasa tidak banyak yang bisa dilakukan saat ini kecuali Bahrain bersedia melakukan perubahan dan peningkatan,” tutur mantan CEO Sepang, Razlan Razali.






