
Nismedia.id - Ancaman boikot Piala Dunia 2030 berembus kencang setelah UEFA bersama 55 federasi anggotanya secara tegas menolak rencana FIFA menjual sebagian saham turnamen kepada investor swasta. Keputusan krusial tersebut diambil dalam pertemuan pada Kamis (30/7/2026).
Langkah ini menjadi bentuk protes keras terhadap badan sepak bola dunia yang dinilai tidak transparan serta minim konsultasi. Gelombang penolakan ini juga didukung oleh konfederasi sepak bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF).
Penolakan Keras Dari Berbagai Konfederasi Sepak Bola
Penolakan tersebut memicu keprihatinan mendalam terkait tata kelola organisasi yang dianggap mengabaikan prosedur resmi. CONCACAF menilai tenggat waktu yang dibuat FIFA sangat sempit tanpa persetujuan badan yang relevan.
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) bersama Sekretaris Kebudayaan Inggris, Lisa Nandy, turut menyuarakan dukungan terhadap sikap tegas Eropa, seperti dikutip nismedia.id dari Kompas.com.
“Piala Dunia adalah milik sepak bola dan akan selalu begitu,” tegas pihak FA.
Ancaman Boikot Piala Dunia 2030 Dan Isu Transparansi
Kritik tajam juga dilayangkan oleh Ketua Dewan Pengawas anak perusahaan ekonomi dan digital Federasi Sepak Bola Jerman, Alexander Wehrle. Ia mempertanyakan arah kepemimpinan Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang dianggap berfokus pada komersialisasi semata.
“Sebuah garis kembali telah dilanggar dan dia ingin menjual sepak bola,” kata Wehrle.
Ketua Federasi Sepak Bola Norwegia, Lise Klaveness, menegaskan bahwa negaranya siap menarik diri dari kompetisi internasional jika proyek rahasia ini tetap dilanjutkan tanpa proses terbuka.






